<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Semangat Belajar dan Beramal</title>
	<atom:link href="http://sekarputih.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekarputih.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Mar 2009 01:26:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sekarputih.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Semangat Belajar dan Beramal</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sekarputih.wordpress.com/osd.xml" title="Semangat Belajar dan Beramal" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sekarputih.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Muhasabah</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/03/05/muhasabah/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/03/05/muhasabah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 01:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah Muhasabah (introspeksi) pada jiwa ada dua macam: sebelum beramal dan setelah beramal. Muhasabah sebelum beramal yaitu hendaknya seseorang menahan diri dari keinginan dan tekadnya untuk beramal, tidak terburu-buru berbuat hingga jelas baginya bahwa jika ia mengamalkannya akan lebih baik daripada meninggalkannya. Al-Hasan rahimahullah mengatakan: “Semoga Allah merahmati seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=123&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah</p>
<p>Muhasabah (introspeksi) pada jiwa ada dua macam: sebelum beramal dan setelah beramal.<br />
Muhasabah sebelum beramal yaitu hendaknya seseorang menahan diri dari keinginan dan tekadnya untuk beramal, tidak terburu-buru berbuat hingga jelas baginya bahwa jika ia mengamalkannya akan lebih baik daripada meninggalkannya.<br />
Al-Hasan rahimahullah mengatakan: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti (untuk muhasabah) saat bertekad (untuk berbuat sesuatu). Jika (amalnya) karena Allah, maka ia terus melaksanakannya dan jika karena selain-Nya ia mengurungkannya.”</p>
<p>Sebagian mereka (ulama) menjabarkan ucapan beliau seraya mengatakan: “Jika jiwa tergerak untuk mengerjakan suatu amalan dan seorang hamba bertekad melakukannya, maka ia (mestinya) berhenti sejenak dan melihat, apakah amalan itu dalam kemampuannya atau tidak? Jika tidak dalam kemampuannya maka tidak dilakukan, tapi kalau mampu maka ia berhenti lagi untuk melihat apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya atau (bahkan) meninggalkannya lebih baik?</p>
<p>Kalau (keadaannya adalah) yang kedua maka ia tidak melakukannya. Kalau yang pertama maka ia berhenti untuk ketiga kalinya dan melihat: apakah pendorongnya adalah keinginan mendapatkan wajah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan pahalanya atau sekedar kedudukan, pujian dan harta dari makhluk? Kalau yang kedua maka ia tidak melakukannya walaupun akan menyampaikan pada keinginannya, agar supaya jiwa tidak terbiasa berbuat syirik dan tidak terasa ringan untuk beramal demi selain Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Karena seukuran ringannya dalam beramal untuk selain Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, seukuran itu pula beratnya dalam beramal untuk Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, hingga hal itu menjadi sesuatu yang paling berat buatnya.</p>
<p>Kalau ternyata pendorong amalnya adalah karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, maka ia berhenti lagi dan melihat: apakah ia akan dibantu dan ia dapati orang-orang yang membantunya –jika amalan itu memang membutuhkan bantuan orang lain– atau tidak ia dapatkan? Kalau tidak didapati yang membantu, hendaknya ia menahan dari amalan tersebut. Sebagaimana Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menahan diri untuk berjihad ketika di Makkah hingga beliau mendapatkan orang yang membantunya dan punya kekuatan. Kalau ia mendapatkan orang yang membantu, maka lakukanlah, niscaya ia akan ditolong. Dan keberhasilan tidak akan lepas kecuali dari orang yang melewatkan satu perkara dari perkara-perkara tadi. Jika tidak, maka dengan terkumpulnya semua perkara itu niscaya takkan lepas keberhasilannya.”</p>
<p>Demikian empat keadaan yang seseorang butuh untuk memuhasabah jiwanya sebelum beramal. Tidak semua yang ingin dilakukan oleh seorang hamba itu mampu dilakukan, dan tidak setiap yang mampu dilakukan itu berarti melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya. Dan tidak setiap yang demikian itu ia lakukan karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tidak pula setiap yang dilakukan karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, ia akan mendapatkan bantuan. Maka jika ia bermuhasabah pada dirinya, akan jelas baginya apa yang dilakukan dan apa yang akan ditinggalkan.</p>
<p>Berikutnya adalah muhasabah setelah beramal, terbagi dalam tiga macam:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: muhasabah pada amal ketaatan yang ia tidak memenuhi hak Allah padanya, di mana ia tidak melakukannya sebagaimana semestinya.<br />
Hak Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala pada sebuah amal ketaatan ada enam: ikhlas dalam beramal, niat baik kepada Allah, mengikuti Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, berbuat baik padanya, mengakui nikmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala padanya, menyaksikan adanya kekurangan pada dirinya dalam beramal. Setelah itu semua maka ia memuhasabah dirinya, apakah ia memenuhi hak-hak itu dan apakah ia melakukannya ketika melakukan ketaatan itu?</p>
<p><strong>Kedua</strong>: muhasabah jiwa dalam setiap amalan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: muhasabah jiwa dalam perkara yang mubah atau yang biasa. Mengapa ia melakukannya? Apakah ia niatkan karena Allah dan negeri akhirat, sehingga ia beruntung? Atau ia inginkan dengannya dunia dan balasannya yang cepat sehingga ia kehilangan keberuntungan itu?</p>
<p>Orang yang membiarkan amalnya, tidak bermuhasabah, berlarut-larut serta memudah-mudahkan perkaranya, sungguh ini akan menyampaikan dirinya kepada kebinasaan. Inilah kondisi orang-orang yang tertipu. Ia pejamkan dua matanya untuk melihat akibat amalannya, membiarkan berlalu keadaannya dan hanya bersandar pada ampunan, sehingga ia tidak bermuhasabah dan tidak melihat akibat amalnya. Kalau ia lakukan itu maka akan mudah melakukan dosa, merasa tenang dengannya, dan akan kesulitan menghindarkan diri dari dosa. Kalau ia sadari tentu akan tahu bahwa menjaga (diri dari dosa) itu lebih gampang daripada menghindari dan meninggalkan sesuatu yang menjadi kebiasaan.</p>
<p>Pokok dari muhasabah adalah: ia memuhasabah dirinya. Terlebih dahulu pada amalan wajib, kalau ia ingat ada kekurangan pada dirinya maka segera menutupinya, mungkin dengan meng-qadha atau memperbaikinya. Lalu ia memuhasabah pada amalan-amalan yang terlarang. Kalau ia tahu bahwa ia (telah) melakukan sebuah perbuatan terlarang, segera ia susul dengan taubat, istighfar, dan melakukan amalan yang menghapusnya. Lalu memuhasabah dirinya pada kelalaiannya, kalau ternyata ia telah lalai dari tujuan penciptaan dirinya, segera ia susul dengan dzikrullah dan menghadapkan dirinya kepada Allah. Lalu ia muhasabah pada tutur katanya, pada amalan yang kakinya melangkah ke suatu tempat, atau pada apa yang dilakukan oleh kedua tangannya, dan pada perkara yang didengar oleh kedua telinganya; apa yang engkau niatkan dengan ini? Demi siapa engkau melakukannya? Bagaimana engkau melakukannya?</p>
<p>Hendaknya ia pun tahu bahwa pasti akan dihamparkan dua catatan untuk setiap gerakan dan kata. Yaitu untuk siapa kamu melakukannya dan bagaimana kamu melakukannya? Yang pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan dan yang kedua adalah pertanyaan tentang mutaba’ah. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ</p>
<p>“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93)</p>
<p>فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ. فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ</p>
<p>“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami). Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (Al-A’raf: 6-7)</p>
<p>لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا</p>
<p>“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Al-Ahzab: 8)<br />
Jika orang-orang yang jujur ditanya dan dihitung amalnya, maka bagaimana dengan orang-orang yang berdusta?<br />
Qatadah rahimahullah mengatakan: “Dua kalimat, yang akan ditanya dengannya orang-orang terdahulu maupun yang kemudian. Apa yang kalian ibadahi? Dengan apa kamu sambut para rasul? Yakni ditanya tentang sesembahannya dan tentang ibadahnya.”<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ</p>
<p>“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 8)<br />
Muhammad ibnu Jarir rahimahullah mengatakan: Allah mengatakan: “Kemudian pasti Allah akan bertanya kepada kalian tentang nikmat yang kalian mendapatkannya di dunia, apa yang kalian lakukan dengannya? Dari jalan mana kalian sampai kepadanya? Dengan apa kalian mendapatkannya? Apa yang kalian perbuat padanya?”<br />
Qatadah rahimahullah mengatakan: Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bertanya kepada setiap hamba tentang apa yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berikan berupa nikmat-Nya dan hak-Nya.<br />
Kenikmatan yang ditanya itu ada dua macam:<br />
Pertama, nikmat yang diambil dengan cara yang halal dan dibelanjakan pada haknya, maka akan ditanya bagaimana syukurnya.<br />
Kedua, nikmat yang diambil tidak dengan cara yang halal dan dibelanjakan bukan pada haknya maka akan ditanya asalnya dan kemana dibelanjakan.<br />
Maka jika seorang hamba akan ditanya dan dihitung segala amalnya sampai pada pendengarannya, penglihatannya dan qalbunya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>وَلاَ تَقْفُ ماَ لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْيَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كاَنَ عَنْهُ مَسْئُولاً</p>
<p>“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36)<br />
Maka sangatlah pantas ia bermuhasabah atas dirinya sebelum ditanya dalam hisab/ perhitungan amal.<br />
Yang menunjukkan wajibnya bermuhasabah pada jiwa adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mengatakan: Seseorang dari kalian hendaknya melihat amalan-amalan yang ia lakukan untuk hari kiamat, apakah amal shalih yang menyelamatkannya ataukah amal jelek yang membinasakannya?<br />
Qatadah rahimahullah mengatakan: Masih saja Allah mendekatkan hari kiamat sehingga menjadikannya seolah esok hari.<br />
Maksud dari pembahasan ini adalah bahwa kebaikan qalbu adalah dengan muhasabah jiwa, dan rusaknya adalah dengan melalaikannya dan membiarkannya.</p>
<p>(Diterjemahkan dari Ighatsatul Lahafan, hal. 90-93 dengan sedikit ringkasan oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)<br />
sumber : <a href="http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=240">http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=240</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=123&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/03/05/muhasabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Imam Hanafi</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/sejarah-singkat-imam-hanafi/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/sejarah-singkat-imam-hanafi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 10:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab. Di kalangan umat Islam, beliau lebih dikenal dengan nama Imam Hanafi. Nasab dan Kelahirannya bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=117&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit al-Kufiy merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab. Di kalangan umat Islam, beliau lebih dikenal dengan nama Imam Hanafi.</p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">Nasab dan Kelahirannya bin Tsabit bin Zuthi (ada yang mengatakan Zutha) At-Taimi Al-Kufi </span></strong><br />
Beliau adalah Abu Hanifah An-Nu’man Taimillah bin Tsa’labah. Beliau berasal dari keturunan bangsa persi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 H pada masa shigharus shahabah dan para ulama berselisih pendapat tentang tempat kelahiran Abu Hanifah, menurut penuturan anaknya Hamad bin Abu Hadifah bahwa Zuthi berasal dari kota Kabul dan dia terlahir dalam keadaan Islam. Adapula yang mengatakan dari Anbar, yang lainnya mengatakan dari Turmudz dan yang lainnya lagi mengatakan dari Babilonia.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><span style="font-size:small;">Perkembangannya</span></span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><br />
<span style="font-size:small;">Ismail bin Hamad bin Abu Hanifah cucunya menuturkan bahwa dahulu Tsabit ayah Abu Hanifah pergi mengunjungi Ali Bin Abi Thalib, lantas Ali mendoakan keberkahan kepadanya pada dirinya dan keluarganya, sedangkan dia pada waktu itu masih kecil, dan kami berharap Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Ali tersebut untuk kami. Dan Abu Hanifah At-Taimi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera, bahkan dia punya toko untuk berdagang kain yang berada di rumah Amr bin Harits.</span></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Abu Hanifah itu tinggi badannya sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara, suaranya bagus dan enak didengar, bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu memakai minyak wangi, bagus dalam bermajelis, sangat kasih sayang, bagus dalam pergaulan bersama rekan-rekannya, disegani dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Beliau disibukkan dengan mencari atsar/hadits dan juga melakukan rihlah untuk mencari hal itu. Dan beliau ahli dalam bidang fiqih, mempunyai kecermatan dalam berpendapat, dan dalam permasalahan-permasalahan yang samar/sulit maka kepada beliau akhir penyelesaiannya.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Beliau sempat bertemu dengan Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah dan belajar kepadanya, beliau juga belajar dan meriwayat dari ulama lain seperti Atha’ bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, Asy-Sya’bi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj al-A’raj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi’, Nafi’ Maula Ibnu Umar, Qotadah bin Di’amah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru fiqihnya, Abu Ja’far Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi. Dan ada yang meriwayatkan bahwa beliau sempat bertemu dengan 7 sahabat.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Beliau pernah bercerita, tatkala pergi ke kota Bashrah, saya optimis kalau ada orang yang bertanya kepadaku tentang sesuatu apapun saya akan menjawabnya, maka tatkala diantara mereka ada yang bertanya kepadaku tentang suatu masalah lantas saya tidak mempunyai jawabannya, maka aku memutuskan untuk tidak berpisah dengan Hamad sampai dia meninggal, maka saya bersamanya selama 10 tahun.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Pada masa pemerintahan Marwan salah seorang raja dari Bani Umayyah di Kufah, beliau didatangi Hubairoh salah satu anak buah raja Marwan meminta Abu Hanifah agar menjadi Qodhi (hakim) di Kufah akan tetapi beliau menolak permintaan tersebut, maka beliau dihukum cambuk sebanyak 110 kali (setiap harinya dicambuk 10 kali), tatkala dia mengetahui keteguhan Abu Hanifah maka dia melepaskannya.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Adapun orang-orang yang belajar kepadanya dan meriwayatkan darinya diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Abul Hajaj di dalam Tahdzibnya berdasarkan abjad diantaranya Ibrahin bin Thahman seorang alim dari Khurasan, Abyadh bin Al-Aghar bin Ash-Shabah, Ishaq al-Azroq, Asar bin Amru Al-Bajali, Ismail bin Yahya Al-Sirafi, Al-Harits bin Nahban, Al-Hasan bin Ziyad, Hafsh binn Abdurrahman al-Qadhi, Hamad bin Abu Hanifah, Hamzah temannya penjual minyak wangi, Dawud Ath-Thai, Sulaiman bin Amr An-Nakhai, Su’aib bin Ishaq, Abdullah ibnul Mubarok, Abdul Aziz bin Khalid at-Turmudzi, Abdul karim bin Muhammad al-Jurjani, Abdullah bin Zubair al-Qurasy, Ali bin Zhibyan al-Qodhi, Ali bin Ashim, Isa bin Yunus, Abu Nu’aim, Al-Fadhl bin Musa, Muhammad bin Bisyr, Muhammad bin Hasan Assaibani, Muhammad bin Abdullah al-Anshari, Muhammad bin Qoshim al-Asadi, Nu’man bin Abdus Salam al-Asbahani, Waki’ bin Al-Jarah, Yahya bin Ayub Al-Mishri, Yazid bin Harun, Abu Syihab Al-Hanath Assamaqondi, Al-Qodhi Abu Yusuf, dan lain-lain.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><span style="font-size:small;">Penilaian para ulama terhadap Abu Hanifah</span></span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><br />
<span style="font-size:small;">Berikut ini beberapa penilaian para ulama tentang Abu Hanifah, diantaranya:</span></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">1. Yahya bin Ma’in berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh, dia tidak membicarakan hadits kecuali yang dia hafal dan tidak membicarakan apa-apa yang tidak hafal”. Dan dalam waktu yang lain beliau berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh di dalam hadits”. Dan dia juga berkata, “Abu hanifah laa ba’sa bih, dia tidak berdusta, orang yang jujur, tidak tertuduh dengan berdusta, …”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">2. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Kalaulah Allah subhanahu wa ta’ala tidak menolong saya melalui Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri maka saya hanya akan seperti orang biasa”. Dan beliau juga berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih”. Dan beliau juga pernah berkata, “Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah, orang yang paling jauh dari perbuatan ghibah adalah Abu Hanifah, saya tidak pernah mendengar beliau berbuat ghibah meskipun kepada musuhnya’ kemudian beliau menimpali ‘Demi Allah, dia adalah orang yang paling berakal, dia tidak menghilangkan kebaikannya dengan perbuatan ghibah’.” Beliau juga berkata, “Aku datang ke kota Kufah, aku bertanya siapakah orang yang paling wara’ di kota Kufah? Maka mereka penduduk Kufah menjawab Abu Hanifah”. Beliau juga berkata, “Apabila atsar telah diketahui, dan masih membutuhkan pendapat, kemudian imam Malik berpendapat, Sufyan berpendapat dan Abu Hanifah berpendapat maka yang paling bagus pendapatnya adalah Abu Hanifah … dan dia orang yang paling faqih dari ketiganya”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">3. Al-Qodhi Abu Yusuf berkata, “Abu Hanifah berkata, tidak selayaknya bagi seseorang berbicara tentang hadits kecuali apa-apa yang dia hafal sebagaimana dia mendengarnya”. Beliau juga berkata, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih tahu tentang tafsir hadits dan tempat-tempat pengambilan fiqih hadits dari Abu Hanifah”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">4. Imam Syafii berkata, “Barangsiapa ingin mutabahir (memiliki ilmu seluas lautan) dalam masalah fiqih hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah”</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">5. Fudhail bin Iyadh berkata, “Abu Hanifah adalah seorang yang faqih, terkenal dengan wara’-nya, termasuk salah seorang hartawan, sabar dalam belajar dan mengajarkan ilmu, sedikit bicara, menunjukkan kebenaran dengan cara yang baik, menghindari dari harta penguasa”. Qois bin Rabi’ juga mengatakan hal serupa dengan perkataan Fudhail bin Iyadh.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">6. Yahya bin Sa’id al-Qothan berkata, “Kami tidak mendustakan Allah swt, tidaklah kami mendengar pendapat yang lebih baik dari pendapat Abu Hanifah, dan sungguh banyak mengambil pendapatnya”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">7. Hafsh bin Ghiyats berkata, “Pendapat Abu Hanifah di dalam masalah fiqih lebih mendalam dari pada syair, dan tidaklah mencelanya melainkan dia itu orang yang jahil tentangnya”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">8. Al-Khuroibi berkata, “Tidaklah orang itu mensela Abu Hanifah melainkan dia itu orang yang pendengki atau orang yang jahil”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">9. Sufyan bin Uyainah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah karena dia adalah termasuk orang yang menjaga shalatnya (banyak melakukan shalat)”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Beberapa penilaian negatif yang ditujukan kepada Abu Hanifah<br />
</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Abu Hanifah selain dia mendapatkan penilaian yang baik dan pujian dari beberapa ulama, juga mendapatkan penilaian negatif dan celaan yang ditujukan kepada beliau, diantaranya :</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">1. Imam Muslim bin Hajaj berkata, “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit shahibur ro’yi mudhtharib dalam hadits, tidak banyak hadits shahihnya”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">2. Abdul Karim bin Muhammad bin Syu’aib An-Nasai berkata, “Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit tidak kuat hafalan haditsnya”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">3. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Abu Hanifah orang yang miskin di dalam hadits”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">4. Sebagian ahlul ilmi memberikan tuduhan bahwa Abu Hanifah adalah murji’ah dalam memahi masalah iman. Yaitu penyataan bahwa iman itu keyakinan yang ada dalam hati dan diucapkan dengan lisan, dan mengeluarkan amal dari hakikat iman.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Dan telah dinukil dari Abu Hanifah bahwasanya amal-amal itu tidak termasuk dari hakekat imam, akan tetapi dia termasuk dari sya’air iman, dan yang berpendapat seperti ini adalah Jumhur Asy’ariyyah, Abu Manshur Al-Maturidi … dan menyelisihi pendapat ini adalah Ahlu Hadits … dan telah dinukil pula dari Abu Hanifah bahwa iman itu adalah pembenaran di dalam hati dan penetapan dengan lesan tidak bertambah dan tidak berkurang. Dan yang dimaksudkan dengan “tidak bertambah dan berkurang” adalah jumlah dan ukurannya itu tidak bertingkat-tingkat, dak hal ini tidak menafikan adanya iman itu bertingkat-tingkat dari segi kaifiyyah, seperti ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang jelas dan yang samar, dan yang semisalnya …</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Dan dinukil pula oleh para sahabatnya, mereka menyebutkan bahwa Abu Hanifah berkata, ‘Orang yang terjerumus dalam dosa besar maka urusannya diserahkan kepada Allah’, sebagaimana yang termaktub dalam kitab “Fiqhul Akbar” karya Abu Hanifah, “Kami tidak mengatakan bahwa orang yang beriman itu tidak membahayakan dosa-dosanya terhadap keimanannya, dan kami juga tidak mengatakan pelaku dosa besar itu masuk neraka dan kekal di neraka meskipun dia itu orang yang fasiq, … akan tetapi kami mengatakan bahwa barangsiapa beramal kebaikan dengan memenuhi syarat-syaratnya dan tidak melakukan hal-hal yang merusaknya, tidak membatalakannya dengan kekufuran dan murtad sampai dia meninggal maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya, bahklan -insya Allah- akan menerimanya; dan orang yang berbuat kemaksiatan selain syirik dan kekufuran meskipun dia belum bertaubat sampai dia meninggal dalam keadaan beriman, maka di berasa dibawah kehendak Allah, kalau Dia menghendaki maka akan mengadzabnya dan kalau tidak maka akan mengampuninya.”</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">5. Sebagian ahlul ilmi yang lainnya memberikan tuduhan kepada Abu Hanifah, bahwa beliau berpendapat Al-Qur’an itu makhluq.<br />
Padahahal telah dinukil dari beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah dan pengucapan kita dengan Al-Qur’an adalah makhluq. Dan ini merupakan pendapat ahlul haq …,coba lihatlah ke kitab beliau Fiqhul Akbar dan Aqidah Thahawiyah …, dan penisbatan pendapat Al-Qur’an itu dalah makhluq kepada Abu Hanifah merupakan kedustaan”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Dan di sana masih banyak lagi bentuk-bentuk penilaian negatif dan celaan yang diberikan kepada beliau, hal ini bisa dibaca dalam kitab Tarikh Baghdad juz 13 dan juga kitab al-Jarh wa at-Ta’dil Juz 8 hal 450.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Dan kalian akan mengetahui riwayat-riwayat yang banyak tentang cacian yang ditujukan kepada Abiu Hanifah -dalam Tarikh Baghdad- dan sungguh kami telah meneliti semua riwayat-riwayat tersebut, ternyata riwayat-riwayat tersebut lemah dalam sanadnya dan mudhtharib dalam maknanya. Tidak diragukan lagi bahwa merupakan cela, aib untuk ber-ashabiyyah madzhabiyyah, … dan betapa banyak dari para imam yang agung, alim yang cerdas mereka bersikap inshaf (pertengahan ) secara haqiqi. Dan apabila kalian menghendaki untuk mengetahui kedudukan riwayat-riwayat yang berkenaan dengan celaan terhadap Abu Hanifah maka bacalah kitab al-Intiqo’ karya Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr, Jami’ul Masanid karya al-Khawaruzumi dan Tadzkiratul Hufazh karya Imam Adz-Dzahabi. Ibnu Abdil Barr berkata, “Banyak dari Ahlul Hadits – yakni yang menukil tentang Abu Hanifah dari al-Khatib (Tarikh baghdad) – melampaui batas dalam mencela Abu Hanifah, maka hal seperti itu sungguh dia menolak banyak pengkhabaran tentang Abu Hanifah dari orang-orang yang adil”</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><span style="font-size:small;">Beberapa nasehat Imam Abu Hanifah</span></span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><br />
<span style="font-size:small;">Beliau adalah termasuk imam yang pertama-tama berpendapat wajibnya mengikuti Sunnah dan meninggalkan pendapat-pendapatnya yang menyelisihi sunnah. dan sungguh telah diriwayatkan dari Abu Hanifah oleh para sahabatnya pendapat-pendapat yang jitu dan dengan ibarat yang berbeda-beda, yang semuanya itu menunjukkan pada sesuatu yang satu, yaitu wajibnya mengambil hadits dan meninggalkan taqlid terhadap pendapat para imam yang menyelisihi hadits. <strong><span style="font-family:&quot;">Diantara nasehat-nasehat beliau adalah:</span></strong></span></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">a. Apabila telah shahih sebuah hadits maka hadits tersebut menjadi madzhabku<br />
Berkata Syaikh Nashirudin Al-Albani, “Ini merupakan kesempurnaan ilmu dan ketaqwaan para imam. Dan para imam telah memberi isyarat bahwa mereka tidak mampu untuk menguasai, meliput sunnah/hadits secara keseluruhan”. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Syafii, “maka terkadang diantara para imam ada yang menyelisihi sunnah yang belum atau tidak sampai kepada mereka, maka mereka memerintahkan kepada kita untuk berpegang teguh dengan sunnah dan menjadikan sunah tersebut termasuk madzhab mereka semuanya”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">b. Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil/memakai pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari dalil mana kami mengambil pendapat tersebut. dalam riwayat lain, haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku, dia berfatwa dengan pendapatku. Dan dalam riawyat lain, sesungguhnya kami adalah manusia biasa, kami berpendapat pada hari ini, dan kami ruju’ (membatalkan) pendapat tersebut pada pagi harinya. Dan dalam riwayat lain, Celaka engkau wahai Ya’qub (Abu Yusuf), janganlah engakau catat semua apa-apa yang kamu dengar dariku, maka sesungguhnya aku berpendapat pada hari ini denga suatu pendapat dan aku tinggalkan pendapat itu besok, besok aku berpendapat dengan suatu pendapat dan aku tinggalkan pendapat tersebut hari berikutnya.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Syaikh Al-Albani berkata, “Maka apabila demikian perkataan para imam terhadap orang yang tidak mengetahui dalil mereka. maka ketahuilah! Apakah perkataan mereka terhadap orang yang mengetahui dalil yang menyelisihi pendapat mereka, kemudian dia berfatwa dengan pendapat yang menyelisishi dalil tersebut? maka camkanlah kalimat ini! Dan perkataan ini saja cukup untuk memusnahkan taqlid buta, untuk itulah sebaigan orang dari para masyayikh yang diikuti mengingkari penisbahan kepada Abu Hanifah tatkala mereka mengingkari fatwanya dengan berkata “Abu Hanifah tidak tahu dalil”!.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Berkata Asy-sya’roni dalam kitabnya Al-Mizan 1/62 yang ringkasnya sebagai berikut, “Keyakinan kami dan keyakinan setiap orang yang pertengahan (tidak memihak) terhadap Abu Hanifah, bahwa seandainya dia hidup sampai dengan dituliskannya ilmu Syariat, setelah para penghafal hadits mengumpulkan hadits-haditsnya dari seluruh pelosok penjuru dunia maka Abu Hanifah akan mengambil hadits-hadits tersebut dan meninggalkan semua pendapatnya dengan cara qiyas, itupun hanya sedikit dalam madzhabnya sebagaimana hal itu juga sedikit pada madzhab-madzhab lainnya dengan penisbahan kepadanya. Akan tetapi dalil-dalil syari terpisah-pesah pada zamannya dan juga pada zaman tabi’in dan atbaut tabiin masih terpencar-pencar disana-sini. Maka banyak terjadi qiyas pada madzhabnya secara darurat kalaudibanding dengan para ulama lainnya, karena tidak ada nash dalam permasalahan-permasalahan yang diqiyaskan tersebut. berbeda dengan para imam yang lainnya, …”. Kemudian syaikh Al-Albani mengomentari pernyataan tersebut dengan perkataannya, “Maka apabila demikian halnya, hal itu merupakan udzur bagi Abu Hanifah tatkala dia menyelisihi hadits-hadits yang shahih tanpa dia sengaja – dan ini merupakan udzur yang diterima, karena Allah tidak membebani manusia yang tidak dimampuinya -, maka tidak boleh mencela padanya sebagaimana yang dilakukan sebagian orang jahil, bahkan wajib beradab dengannya karena dia merupakan salah satu imam dari imam-imam kaum muslimin yang dengan mereka terjaga agama ini. …”.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">c. Apabila saya mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi kitab Allah dan hadits Rasulullah yang shahih, maka tinggalkan perkataanku.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><span style="font-size:small;">Wafatnya</span></span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><br />
<span style="font-size:small;">Pada zaman kerajaan Bani Abbasiyah tepatnya pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur yaitu raja yang ke-2, Abu Hanifah dipanggil kehadapannya untuk diminta menjadi qodhi (hakim), akan tetapi beliau menolak permintaan raja tersebut – karena Abu Hanifah hendak menjauhi harta dan kedudukan dari sultan (raja) – maka dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara dan wafat dalam penjara.</span></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">Dan beliau wafat pada bulan Rajab pada tahun 150 H dengan usia 70 tahun, dan dia dishalatkan banyak orang bahkan ada yang meriwayatkan dishalatkan sampai 6 kloter.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><em><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB">(diambil dari majalah Fatawa)</span></strong></em><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><span style="font-size:small;">Daftar Pustaka:</span></span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-GB"><br />
<em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">1. Tarikhul Baghdad karya Abu Bakar Ahmad Al-Khatib Al-Baghdadi cetakan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut</span></span></em><em><br />
<span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&quot;">2. Siyarul A’lamin Nubala’ karya Al-Imam Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi cetakan ke &#8211; 7 terbitan Dar ar-Risalah Beirut</span></em><br />
<em><span style="font-family:&quot;">3. Tadzkiratul Hufazh karya Al-Imam Syamsudin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut</span></em><br />
<em><span style="font-family:&quot;">4. Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir cetakan Maktabah Darul Baz Beirut</span></em><br />
<em><span style="font-family:&quot;">5. Kitabul Jarhi wat Ta’dil karya Abu Mumahhan Abdurrahman bin Abi Hatim bin Muhammad Ar-Razi terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah Beirut</span></em><br />
<em><span style="font-family:&quot;">6. Shifatu Shalatin Nabi karya Syaikh Nashirudin Al-Albani cetakan Maktabah Al-Ma’arif Riyadh</span></em></span></em></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p style="margin:0;"><span style="color:navy;font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Sumber: </span><a href="http://muslim.or.id/?p=58"><span style="font-size:small;">http://muslim.or.id/?p=58</span></a></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=117&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/sejarah-singkat-imam-hanafi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Imam Malik</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/sejarah-singkat-imam-malik/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/sejarah-singkat-imam-malik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 10:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta&#8217; (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, &#8221;Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=115&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta&#8217; (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, &#8221;Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.&#8221;</p>
<p>Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. &#8221;Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.&#8221; Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.</p>
<p>Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.</p>
<p>Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.</p>
<p>Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.</p>
<p>Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi&#8217; bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi&#8217;in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.</p>
<p>Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma&#8217;mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi&#8217;i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.</p>
<p>Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, &#8221;Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.&#8221;</p>
<p>Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja&#8217;far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai&#8217;at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai&#8217;at kepada khalifah yang mereka tak sukai.</p>
<p>Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai&#8217;at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja&#8217;far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja&#8217;far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja&#8217;far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.</p>
<p>Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.</p>
<p>Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify"> </p>
<h2 style="margin-top:0;margin-bottom:0;">
Dari Al Muwatta&#8217; Hingga Madzhab Maliki</h2>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify">
Al Muwatta&#8217; adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Santri mana yang tak kenal kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.</p>
<p>Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwatta&#8217; tak akan lahir bila Imam Malik tidak &#8216;dipaksa&#8217; Khalifah Mansur. Setelah penolakan untuk ke Baghdad, Khalifah Al Mansur meminta Imam Malik mengumpulkan hadits dan membukukannya. Awalnya, Imam Malik enggan melakukan itu. Namun, karena dipandang tak ada salahnya melakukan hal tersebut, akhirnya lahirlah Al Muwatta&#8217;. Ditulis di masa Al Mansur (754-775 M) dan baru selesai di masa Al Mahdi (775-785 M).</p>
<p>Dunia Islam mengakui Al Muwatta&#8217; sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut Syah Walilullah, kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih dan terpilih. Imam Malik memang menekankan betul terujinya para perawi. Semula, kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang berlainan. Selain Al Muwatta&#8217;, Imam Malik juga menyusun kitab Al Mudawwanah al Kubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.</p>
<p>Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan mazhab fikih di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta&#8217;, kitab-kitab seperti Al Mudawwanah al Kubra, Bidayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan ar Risalah fi al Fiqh al Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Asl al Madarik Syarh Irsyad al Masalik fi Fiqh al Imam Malik (karya Shihabuddin al Baghdadi), dan Bulgah as Salik li Aqrab al Masalik (karya Syeikh Ahmad as Sawi), menjadi rujukan utama mazhab Maliki.</p>
<p>Di samping sangat konsisten memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara berurutan, sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-Qur&#8217;an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan al maslahah al mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu).</p>
<p>Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Mekah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. Kecuali di tiga negara yang disebut terakhir, jumlah pengikut mazhab Maliki kini menyusut. Mayoritas penduduk Mekah dan Madinah saat ini mengikuti Mazhab Hanbali. Di Iran dan Mesir, jumlah pengikut Mazhab Maliki juga tidak banyak. Hanya Marokko saat ini satu-satunya negara yang secara resmi menganut Mazhab Maliki.</p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0;margin-bottom:0;"><span style="color:#000080;">Sumber: </span><span style="font-size:12pt;font-family:Times New Roman;" lang="EN-GB"><a href="http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;artid=170">http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&amp;artid=170</a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=115&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/sejarah-singkat-imam-malik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MUSIK MENURUT 4 MAHDZAB</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/musik-menurut-4-mahdzab/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/musik-menurut-4-mahdzab/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 02:41:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik & Gambar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[OLEH : SHALAH ‘ABDUL MA’BUD Musik dan nyanyian dalam Al-Quran dan As-Sunnah Sesungguhnya Allah Subhanallohuta’ala telah menciptakan makhluknya, memerintahkan mereka untuk taat kepadaNya, melarang mereka dari bermaksiat kepadaNya, menjelaskan kepada mereka akan buah dari ketaatan berikut jalan jalanNya, serta memberikan peringatan kepada mereka dari maksiat dan akibatnya. Iblis laknatullah telah mengetahui bahwa poros segala urusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=111&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>OLEH : SHALAH ‘ABDUL MA’BUD</p>
<p><strong>Musik dan nyanyian dalam Al-Quran dan As-Sunnah</strong></p>
<p>Sesungguhnya Allah Subhanallohuta’ala telah menciptakan makhluknya, memerintahkan mereka untuk taat kepadaNya, melarang mereka dari bermaksiat kepadaNya, menjelaskan kepada mereka akan buah dari ketaatan berikut jalan jalanNya, serta memberikan peringatan kepada mereka dari maksiat dan akibatnya. Iblis laknatullah telah mengetahui bahwa poros segala urusan adalah hati, jika hati tersebut sehat dan istiqomah, maka istiqomahlah seluruh anggota tubuh diatas ketaatan kepada Rabbnya, dan jika hati itu bengkok maka menyimpanglah seluruh anggota tubuh kepada jalan kebinasaan. Maka hati adalah raja, sementara anggota badan adalah bala tentaranya, jika sang raja baik, maka bala tentarapun menjadi baik, namun jika sang raja buruk, bala tentaranya pun menjadi buruk.</p>
<p>Ketahuilah, mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadaku dan anda sekalian, bahwa termasuk musibah yang merata, yang dengannya hati diuji dengan keras adalah rasa cinta terhadap nyanyian dan musik. Mendengarkan nyanyian menjadi lebih dicintai mayoritas manusia dari pada mendegarkan ayat-ayat Al-Quran. Seandainya salah seorang dari mereka mendengarkan Al-Quran dari awal sampai akhir maka tidaklah Al-Qur’an itu akan menggugah hatinya dengan tenang. Tetapi jika dibacakan kepadanya nyanyian-nyanyian, serta alunan musik maka pendengaran mereka terketuk dan hati mereka tergetar dan bergoncang. Maka subhanallah, maha suci Allah dari orang yang terfitnah ini, yang telah menyia-nyiakan bagian kedekatannya kepada Allah dan rela bagian kesesatan syetan.</p>
<p>Kalimat-kalimat berikut ini adalah sebuah nasehat untuk memberikan peringatan dan kasih sayang. Marilah kita bersama-sama memperhatikan jalan hidayah dan petunjuk yang berada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, karena sebaik-baik perkataan adalah firman Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi. Setelah itu kita perhatikan perkataan ulama ahlusunnah tentang musik dan nyanyian yang merupakan seruling-seruling setan.</p>
<p>Allah berfirman yang artinya : ”<em>Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan</em>.” (QS. Lukman (31) : 6)</p>
<p>Ibnu katsir berkata dalam menafsiri ayat tersebut : ”<em>Allah menyebutkan keadaan orang-orang celaka yang berpaling dari manfaat mendengarkan kalamullah, dan malah mendengarkan seruling-seruling, nyanyian-nyanyian dengan berbagai nada, serta alat-alat musik</em>.”</p>
<p>Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud tentar firman Allah ini : <em>”(Lahwul Hadits) itu adalah nyanyian, demi Allah yang tidak ada yang haq kecuali Dia.”</em> dan dia mengulangi ucapan tersebut hingga tiga kali. Imam Ibnu katsir juga menukil perkataan hasan basri : <em>”Ayat ini turun tentang nyanyian dan seruling (alat-alat musik)</em>.” Demikian pula firman Allah yang artinya : ”<em>Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu,…”(</em>QS. Al-Israa’ (17) : 64)</p>
<p>Ibnu Katsir berkata : ”<em>mujahid berkata : (yaitu) dengan permainan dan nyanyian(musik)</em>”.</p>
<p>Al-Qurthubi berkata : ”<em>dari Ibnu Abbas dan mujahid : (yaitu dengan) nyanyian, seruling dan permainan</em>.”</p>
<p>Ad-Dahhak berkata : ”<em>yaitu dengan suara seruling</em>.”</p>
<p>Adapun didalam sunnah, maka telah diriwayatkan didalam shahih bukhori secara mua’allaq dengan bentuk jazm (pasti,kuat) bahwa nabi bersabda :</p>
<p>”<em>Benar-benar akan ada diantara umatku yang akan menghalalkan perzinaan, sutra(bagi laki-laki), khamr, dan ala-alat musik.</em>” (HR. Bukhori, menurut al-hafizh hadits diriwayatkan secara maushul (sambung sanadnya) dari sepuluh jalur. Hadits ini shahih)</p>
<p>hadits tersebut menjadi dalil yang jelas akan haramnya beberapa alat alat musik dari beberapa sisi :</p>
<p>1. Sabda beliau mereka menghalalkannya, maka kalimat tersebut adalah jelas bahwa yang telah disebutkan tersebut, yang diantaranya adalah alat-alat musik diharamkan di dalamsyariat yang kemudian dihalalkan oleh orang-orang tersebut.</p>
<p>2. Beliau menggandengkan penyebutan alat-alat musik dengan perkara-perkara yang diharamkan secara qath’i (pasti), yaitu dengan zina, dan khamr. Seandainya musik tersebut tidak diharamkan maka tidak akan digandengkan bersama keduanya. Maka sungguh benar Rosulullah terhadap apa yang telah beliau sabdakan. Zaman ini telah berputar, yang mungkar menjadi ma’ruf dan yang ma’ruf menjadi mungkar. Manusia telah menganggap baik apa yang telah diharamkan Allah dan RosulNya, dan mereka mengingkari orang-orang yang mencacatnya.</p>
<p>Ibnu Majah dan Thabrani meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d dari Rosulullah bahwa beliau bersabda : ”<em>Akan ada pada umatku penenggelaman, semburan(api), dan perubahan bentuk</em>.” dikatakan kepada beliau : ”<em>kapan wahai Rosulullah?</em>”. beliau menjawab :”<em>jika telah tampak(merajalela dan menyebar) alat-alat musik, para penyanyi wanita dan telah dianggap halal khamr</em>.”(Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah (1787)).</p>
<p>Imam Asy-Sya’bi berkata :”<em>dilaknatlah orang yang bernyanyi dan mendengarkannya</em>.”</p>
<p><strong>MUSIK DAN NYANYIAN MENURUT IMAM EMPAT </strong></p>
<p>Adapun Imam 4 mahdzab, maka perkataan mereka tentang masalah ini sudah terkenal bagi setiap orang yang memperhatikan kitab-kitab mereka serta yang meneliti kitab-kitab mereka.</p>
<p><strong>IMAM ABU HANIFAH</strong> berkata : ”<em>Nyanyian (musik, hukumnya) haram dan termasuk dalam bagian dosa-dosa</em>.” Bahkan para pengikut beliau menjelaskan dengan terang-terangan akan keharaman sekuruh alat musik. Secara terang-terangan mereka menyatakan bahwa musik adalah sebuah maksiat yang mewajibkan kefasikan, dan tertolaknya kesaksian karenanya. Bahkan yang lebih nyata dari itu adalah mereka berkata :” <em>Sesungguhnya mendengarkan nyanyian(musik) adalah kefasikan, dan menikmatinya adalah kekufuran</em>.”</p>
<p>Adapun <strong>IMAM MALIK</strong>, beliau pernah ditanya tentang nyanyian(musik) yang ruhsyah (dibolehkan,diberi keringanan) oleh penduduk madinah maka beliau berkata :”<em>yang melakukannya disisi kami hanyalah orang-orang fasik</em>.” dan beliau berkata :”<em>jika ada seseorang membeli seorang budak wanita dan ternyata dia mendapatinya adalah seorang penyanyi maka boleh baginya untuk mengembalikan budak wanita itu dengan menyebut aibnya (karena keahlian nyanyi adalah aib)</em>.”</p>
<p>Adapun <strong>IMAM ASY-SYAFI’I</strong> maka para sahabatnya yang mengenal mahdzabnya secara terang-terangan menegaskan akan keharaman alat musik tersebut. Bahkan telah mutawattir darinya bahwa dia berkata : ”<em>Aku tinggalkan Baghdad (yang padanya terdapat) sebuah perkara yang dibuat-buat oleh orang-orang zindiq, mereka menamakannya dengan at-Taghbir, dengannya mereka memalingkan manusia dari Al-Qur’an</em>.” at-Taghir adalah syair-syair yang mengajak untuk zuhud di dunia, dimana salah seorang vokalis melantukannya sesuai dengan nada-nada pukulan gendang dan semisalnya. Maka Imam Asy-Syafi’i secara terang-terangan menegaskan bahwa orang yang melakukan perbuatan tersebut adalah zindiq, maka bagaimana pula seandainya dia mendengar nyanyian-nyanyian musik di jaman sekarang yang para pembantu-pembantu setan telah beruapaya untuk memperdengarkannya kepada manusia baik ridlo ataupun tidak ridlo? Bagaimana seandainya Imam asy-Syafi’i mendengar perbuatan sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada mahdzabnya pada hari ini yang mengatakan bolehnya mendengarkan nyanyian(musik). Dan tidak haram ? dan mereka mengatakan bahwa itu adalah syair yang kebaikannya adalah baik dan keburukannya adalah buruk? Dimana mereka telah mencampur aduk perkara manusia dalam urusan agama mereka, dan seakan-akan mereka datang dari jagad lain dan tidak mengenal nyanyian(musik) pada hari ini.<br />
Imam asy-Syafi’i berkata : ”<em>Pemilik budak wanita, jika dia mengumpulkan manusia untuk mendengarkan nyanyian budak tersebut, maka dia adalah orang dungu, yang tertolak kesaksiannya</em>.” dan beliau berkata tentangnya dengan perkataan keras :”<em>itu adalah perbuatan Diyatsah(yaitu perbuatan yang menunjukkan tidak adanya cemburu pada diri seorang lak-laki terhadap kemaksiatan yang dilakukan oleh keluarganya dan sikap seorang dayyuts diancam oleh nabi dengan tidak akan masuk ke dalam surga</em>.”</p>
<p>Adapun <strong>IMAM AHMAD</strong> maka putra beliau yaitu Abdullah bin Ahmad berkata : ”<em>aku pernah bertanya kepada bapak kau tentang nyanyian(musik), maka dia menjawab Nyanyian(musik) itu akan menumbuhkan kemunafikan didalam hati, dan itu tidaklah membuat takjub. Kemudian beliau menyebutkan ucapan imam malik ”yang melakukannya disisi kami hanyalah orang orang yang fasik</em>””.</p>
<p>Maka merekalah IMAM 4 MAHDZAB, mereka semua telah bersepakat akan keharaman nyanyian(musik) dan menegaskan dengan terang-terangan tentangnya. Bahkan telah dinukil dari para ulama kaum muslimin akan adanya IJMA’ atas masalah tersebut.</p>
<p>Mudah-mudahan Allah merahmati Ibnul Qayyim saat beliau berkata tentang musik : ”<em>maka mendengarnya adalah Haram, menurut imam-imam mahdzab dan ulama muslim yang lain dan tidak pantas bagi orang yang mencium aroma ilmu untuk bersikap tawaquf (diam bimbang) dalam mengharamkan hal tersebut. Minimal musik itu adalah siarnya orang-orang fasik dan para peminum khamr</em>.”</p>
<p>Maka inilah perkataan para imam, yang berbicara dengan haq, seraya memberikan nasehat kepada para hamba-hamba Allah. Seadainya seorang pemerhati memperhatikan nyanyian dan musik yang mengetuk pendengaran-pendengaran mereka, maka pastilah mereka akan memberikan komentar dengan komentar para imam tersebut.</p>
<p>Seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas : ”<em>apa yang anda katakan tentang nyanyian(musik)? Apakah halal atau haram?</em>”. maka dia menjawab : ”<em>bagaimana pendapatmu tentang kebenaran dan kebathilan jika keduanya datang pada hari kiamat, maka dimanakah kiranya nyanyian(musik) tersebut?</em>”. maka laki-laki itu menjawab : ”<em>akan berada bersama kebathilan</em>.” berkatalah Ibnu Abbas ”<em>pergilah, engkau telah memberikan fatwa kepada dirimu sendiri.”</em><br />
Inilah dia Ibnu Abbas telah menetapkan hujjah atas lelaki tersebut, dan lelaki tersebut telah memutuskan perkara atas dirinya dengan dirinya sendiri. Itu adalah sebuah perkara yang bisa diketahui dengan fitrah sekalipun kitabullah dan sunnah nabi telah berbicara tentangnya dan sebaian kecilnya sudah mencupuki bagi orang-orang yang adil dalam mencari kebenaran.</p>
<p> Maka ketahuilah – mudah-mudahan Allah memberikan rahmatNya kepada kita semua – bahwasanya nyanyian(musik) dan Al-Qur’an tidak akan berkumpul di dalam dada untuk selamanya. Karena Al-Qur’an melarang mengikuti hawa nafsu dan memerintahkan untuk menjaga kesucian dan keutamaan. Sementara nyanyian(musik) memerintahkan untuk mengikuti hawa nafsu, menggelorakannya dan menggerakkannya kepada segenap keburukan. Sesungguhnya anda tidak pernah melihat seseorang yang hidupnya condong kepada nyanyian(musik) kecuali padanya ada kesesatan dari jalan hidayah, dan padanya terdapat keinginan untuk mendengarkan nyanyian(musik) dari pada Al-Qur’an, maka menjadi beratlah atasnya, ayat-ayat tersebut akan berlalu atasnya seakan-akan seperti gunung yang dia melihat padanya terdapat beban berat dan kebosanan. Dan seandainya dia mendengar nyanyian(musik) berjam-jam lamanya maka jiwanya menjadi tenteram, dan syetan-lah yang menghiasinya.</p>
<p>Allah berfirman yang artinya : ”<em>Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih</em>.”(QS. Luqman (31) : 7)</p>
<p>Ibnu Katsir berkata yaitu, orang yang menerima permainan, kesia-siaan dan musik-musik tersebut jika dibacakan Al-Qur’an mereka berpaling dan membelakanginya lalu mudah-mudahan Allah merahmati Amirul Mukminin Umar ibnul Abdul Aziz saat dia menulis kepada pendidik putranya :”<em>hendaknya pertama kali yang engkau ajarkan adalah dengan menundukkan diri dari permainan-permainan yang dimulai oleh syetan dan hasil akhirnya adalah kemurkaan Arrahman. Karena sesungguuhnya telah sampai kepadaku dari orang-orang yang terpercaya dari ahli ilmu bahwa suara musik-musik, mendengarkan nyanyian dan gemar dengannya akan menumbuhkan kemunafikkan didalam dada sebagaimana lumut tumbuh diatas air</em>.”</p>
<p>Maka konsistenlah – mudah-mudahan Allah memberikan rahmatNya kepada kami dan kepada anda semua – kepada jalan hidayah dan ketaatan. Dan ketahuilah bahwa orang yang memisahkan dari jalan kaum mukminin maka dia telah mengharuskan menyesalan, kerugian dan kesesatan atas dirinya. Maka jadilah anda semua diatas titian para salaf shaleh yang Allah telah memberikan kesaksian kepada mereka semua dengan ridlo. Dan jangalah mencari selain mereka.</p>
<p>Allah berfirman yang artinya : ”<em>Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali</em>.” (QS. AN-NISA’ (4) : 115)</p>
<p>Allah-lah berada dibalik setiap maksud dan tujuan.</p>
<p>Di salindari majalah Qiblati edisi 09 tahun III 06-2008/05-1429</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=111&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/02/04/musik-menurut-4-mahdzab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa-Fatwa Para Ulama tentang Boneka</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang-boneka/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang-boneka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 02:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Tanya: Ada beragam boneka, di antaranya yang terbuat dari kapas yang memiliki kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada pula yang sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis, atau berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=108&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin</p>
<p>Tanya:<br />
Ada beragam boneka, di antaranya yang terbuat dari kapas yang memiliki kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada pula yang sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis, atau berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus hiburan?</p>
<p>Jawab:<br />
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjawab: “Boneka yang tidak detail bentuknya menyerupai manusia/ makhluk hidup (secara sempurna) namun hanya berbentuk anggota tubuh dan kepala yang tidak begitu jelas maka tidak diragukan kebolehannya dan ini termasuk jenis anak-anakan yang dimainkan Aisyah radhiallahu ‘anha.</p>
<p>Adapun bila boneka itu bentuknya detail, mirip sekali dengan manusia sehingga seakan-akan kita melihat sosok seorang manusia, apalagi bila dapat bergerak atau bersuara, maka ada keraguan di jiwa saya untuk membolehkannya. Karena boneka itu menyerupai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala secara sempurna. Sedangkan yang dzahir, boneka yang dimainkan `Aisyah, tidaklah demikian modelnya (tidaklah rinci/ detail bentuknya). Dengan demikian menghindarinya lebih utama. Namun saya juga tidak bisa memastikan keharamannya, karena memandang, anak-anak kecil itu diberikan rukhshah/ keringanan yang tidak diberikan kepada orang dewasa seperti perkara ini. Disebabkan anak-anak memang tabiatnya suka bermain dan hiburan, mereka tidaklah dibebani dengan satu macam ibadah pun sehingga kita tidak dapat berkomentar bahwa waktu si anak sia-sia terbuang percuma dengan main-main. Jika seseorang ingin berhati-hati dalam hal ini, hendaknya ia melepas kepala boneka itu atau melelehkannya di atas api hingga lumer, kemudian menekannya hingga hilang bentuk wajah boneka tersebut (tidak lagi tampak/berbentuk hidung, mata, mulutnya, dsb, -pent.).”</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 329, 2/277-278)</p>
<p>Tanya:<br />
Banyak sekali dijumpai pendapat dan fatwa seputar permainan anak-anak. Lalu apa hukum boneka/ anak-anakan dan boneka hewan? Bagaimana pula hukumnya menggunakan kartu bergambar guna mengajari huruf dan angka pada anak-anak?</p>
<p>Jawab:<br />
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab: “Tidak boleh mengambil/ menyimpan gambar makhluk yang memiliki nyawa (kecuali gambar yang darurat seperti foto di KTP, SIM). Adapun yang selain itu tidaklah diperbolehkan. Termasuk pula dalam hal ini boneka untuk mainan anak-anak atau gambar yang digunakan untuk mengajari mereka (seperti memperkenalkan bentuk-bentuk hewan dengan memperlihatkan gambarnya, –pent), karena keumuman larangan membuat gambar dan memanfaatkannya. Padahal banyak kita dapatkan mainan anak-anak tanpa gambar/ berbentuk makhluk hidup. Dan masih banyak sarana yang bisa kita gunakan untuk mengajari mereka tanpa menggunakan gambar.</p>
<p>Adapun pendapat yang membolehkan mainan boneka untuk anak-anak, maka pendapatnya lemah karena bersandar dengan hadits tentang mainan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ketika ia masih kecil. Namun ada yang mengatakan hadits ‘Aisyah tersebut mansukh (dihapus hukumnya) dengan hadits-hadits yang menunjukkan diharamkannya gambar. Ada pula yang mengatakan bentuk boneka/ anak-anakan ‘Aisyah tidaklah seperti boneka yang ada sekarang, karena boneka ‘Aisyah terbuat dari kain dan tidak mirip dengan boneka berbentuk makhluk hidup yang ada sekarang. Inilah pendapat yang kuat, wallahu a’lam. Sementara boneka yang ada sekarang sangat mirip dengan makhluk hidup (detail/ rinci bentuknya). Bahkan ada yang bisa bergerak seperti gerakan makhluk hidup.”</p>
<p>(Kitabud Da’wah, 8/23-24, seperti dinukil dalam Fatawa ‘Ulama` Al-Baladil Haram hal. 1228-1229)</p>
<p>Tanya:<br />
Apakah ada perbedaan bila boneka/ anak-anakan itu dibuat sendiri oleh anak-anak dengan kita yang membuatkannya atau membelikannya untuk mereka?</p>
<p>Jawab:<br />
Aku memandang –kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin– membuat boneka dengan bentuk yang menyerupai ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala haram hukumnya. Karena perbuatan ini termasuk tashwir yang tidak diragukan keharamannya. Akan tetapi bila mainan itu dibuat oleh orang-orang Nasrani dan kalangan non muslim, maka hukum memanfaatkannya sebagaimana yang pernah aku katakan. Tapi kalau kita harus membelinya maka lebih baik kita membeli mainan yang tidak berbentuk makhluk hidup seperti sepeda, mobil-mobilan dan semisalnya. Adapun boneka dari kapas/katun yang tidak detail bentuknya walaupun punya anggota-anggota tubuh, kepala dan lutut, namun tidak memiliki mata dan hidung, maka tidak apa-apa (dimainkan oleh anak-anak kita) karena tidak menyerupai makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 330, 2/278)</p>
<p>Tanya:<br />
Apakah benar pendapat sebagian ulama yang mengecualikan mainan anak-anak/boneka dari gambar yang diharamkan?</p>
<p>Jawab:<br />
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Pendapat yang mengecualikan mainan anak-anak/ boneka dari gambar yang diharamkan adalah pendapat yang benar. Namun perlu diperjelas, boneka seperti apakah yang dikecualikan tersebut? Apakah boneka yang dulu pernah ada (seperti yang dimainkan oleh ‘Aisyah dengan sepengetahuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -pent), yang modelnya tidaklah detail, tidak ada matanya, bibir dan hidung sebagaimana boneka yang dimainkan oleh anak-anak sekarang? Ataukah keringanan/pengecualian dari pengharaman tersebut berlaku umum pada seluruh boneka anak-anak, walaupun bentuknya seperti yang kita saksikan di masa sekarang ini? Maka dalam hal ini perlu perenungan dan kehati-hatian. Sehingga seharusnya anak-anak dijauhkan dari memainkan boneka-boneka dengan bentuk detail seperti yang ada sekarang ini. Dan cukup bagi mereka dengan model boneka yang dulu (tidak detail).”</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 327, 2/275)</p>
<p>Dicopy dari: www.asysyariah.com (v. offline)</p>
<p>sumber : <a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/25/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang-boneka/">http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/25/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang-boneka/</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=108&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang-boneka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAUHID (HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA)</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/tauhid-hakekat-dan-kedudukannya/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/tauhid-hakekat-dan-kedudukannya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 02:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Firman Allah Subhanahu wata’ala : ]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون[ِ (الذريات:56)   “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah([1]) kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56). ]وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت[(النحل: من الآية:36) “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=105&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Firman Allah Subhanahu wata’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr">]</span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">ِ (الذريات:56) </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;"></span> </p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah</span><sup><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;">(<a name="_ftnref1" href="/My_File/Pustaka/E_Book/Proyek%20T%20A%20U%20H%20I%20D%20on%20jedaonline/theme.htm#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference">[1]</span></a>)</span></span></sup><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 56).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr">]</span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">(النحل: من الآية</span></span><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Traditional Arabic;">:</span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA">36) </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah <strong>thoghut</strong>”</span><sup><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;">(<a name="_ftnref2" href="/My_File/Pustaka/E_Book/Proyek%20T%20A%20U%20H%20I%20D%20on%20jedaonline/theme.htm#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference">[2]</span></a>)</span></span></sup><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">.” (QS. An Nahl, 36).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">]</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”</span><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;"><em><span style="font-family:Traditional Arabic;" dir="rtl"> </span></em></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(QS. Al Isra’, 23-24).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">]</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 151-153).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">          Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang tertera di atasnya  cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Subhanahu wata’ala : “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain.<sup>(<a name="_ftnref3" href="/My_File/Pustaka/E_Book/Proyek%20T%20A%20U%20H%20I%20D%20on%20jedaonline/theme.htm#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference">[3]</span></a>)</sup>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">       Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:medium;font-family:Verdana;"><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA">كنت رديف النبي  على حمار، فقال لي :&#8221; يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟ قلت : الله ورسوله أعلم، قال : حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا، قلت : يا رسول الله، أفلا أبشر الناس ؟ قال : &#8221; لا تبشرهم فيتكلوا &#8220;.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-size:medium;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;margin:6pt 0;" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku : “ wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda : “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya : ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab : “Jangan engkau lakukan itu, karena Khawatir mereka nanti bersikap pasrah” (HR. Bukhari, Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">     <strong>    Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini :</strong></span></p>
<ol>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah Ta&#8217;ala.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada  Allah Tabaroka wata’ala inilah sebenarnya makna firman Allah :</span></p>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">]</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">ولا أنتم عابدون ما أعب</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">        “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun, 3)</span></p>
<ol>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hikmah diutusnya para Rasul [adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ajaran para Nabi adalah satu, yaitu tauhid [mengesakan Allah Subhanahu wata’ala saja].</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut. </span></p>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">        Dan inilah maksud dari firman Allah Subhanahu wata’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">]</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).</span></p>
<ol>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al An’am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, didalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam surat Al Isra' mengandung 18 masalah, dimulai dengan firman Allah :</span></p>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">]</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">لا تجعل مع الله إلها آخر فتقعد مذموما مخذولا</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra’, 22).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">               Dan diakhiri dengan firmanNya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">]</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">ولا تجعل مع الله إلها آخر فتلقى في جهنم ملوما مدحورا</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra’, 39).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">]</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;">ذلك مما أوحى إليك ربك من الحكمة</span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra’, 39).</span></p>
<ol>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Satu ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’, disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:</span></p>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:6pt 0;" dir="rtl"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">]</span></span><span style="font-family:Traditional Arabic;" lang="AR-SA"><span style="font-size:medium;"> واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا </span></span><span style="font-family:AGA Arabesque;" dir="ltr"><span style="font-size:medium;">[</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.” (QS. An Nisa’, 36).</span></p>
<ol>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Perlu diingat wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di saat akhir hayat beliau.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengetahui hak-hak Allah yang wajib kita laksanakan.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengetahui hak-hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka melaksanakannya.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat<sup>(<a name="_ftnref4" href="/My_File/Pustaka/E_Book/Proyek%20T%20A%20U%20H%20I%20D%20on%20jedaonline/theme.htm#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference">[4]</span></a>)</sup>.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jawaban orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kerendahan hati Rasulullah, sehingga beliau hanya naik keledai, serta mau memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.</span></p>
</li>
<li>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Keutamaan Muadz bin Jabal..</span></p>
</li>
</ol>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:6pt 0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:6pt 0;"><strong></strong> </p>
<div><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;"><br />
 </span><br />
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:xx-small;font-family:Verdana;">(</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;">[1]</span></span></span><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;">)</span><span style="font-size:x-small;">   Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan</span><span style="font-family:Traditional Arabic;" dir="rtl" lang="AR-YE"><span style="font-size:x-small;">-</span></span><span style="font-size:x-small;">Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">         Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhoi oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:xx-small;font-family:Verdana;">(</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;">[2]</span></span></span><span style="font-size:xx-small;font-family:Verdana;">)</span><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">   Thoghut ialah : setiap yang diagungkan selain Allah dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><span style="font-size:xx-small;font-family:Verdana;">(</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;">[3]</span></span></span><span style="font-size:xx-small;font-family:Verdana;">)</span><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">   Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:xx-small;font-family:Verdana;">(</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;">[4]</span></span></span><span style="font-size:xx-small;font-family:Verdana;">)</span><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">  Tidak diketahui oleh sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mau berlomba lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat. </span></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=105&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/tauhid-hakekat-dan-kedudukannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan yang Menyenangkan</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/perjalanan-yang-menyenangkan/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/perjalanan-yang-menyenangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 02:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rosululloh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan menuju rumah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam untuk melihat seluk beluk kehidupan dan tata krama pergaulan beliau merupakan perjalanan yang sangat diidamkan setiap orang. Terlebih lagi bila diniatkan untuk menggapai pahala di sisi Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala. Sebuah perjalanan yang sarat ibrah dan pelajaran, penuh teladan dan anutan. Yaitu perjalanan melalui kitab-kitab dan riwayat-riwayat dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=102&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Perjalanan menuju rumah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam untuk melihat seluk beluk kehidupan dan tata krama pergaulan beliau merupakan perjalanan yang sangat diidamkan setiap orang. Terlebih lagi bila diniatkan untuk menggapai pahala di sisi Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala. <span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX">Sebuah perjalanan yang sarat ibrah dan pelajaran, penuh teladan dan anutan. Yaitu perjalanan melalui kitab-kitab dan riwayat-riwayat dari lisan para sahabat Radhiallahu&#8217;anhu ;. Sebab, kita tidak dibolehkan melakukan perjalanan ke makam atau rumah beliau atau ke tempat-tempat lainnya selain ke tiga masjid, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam hadits: </span></span></span></p>
<p style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX">“Janganlah mengadakan perjalanan (secara khusus) ke-cuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Kita wajib mentaati perintah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dengan tidak mengadakan perjalanan secara khusus kecuali ke tiga masjid tersebut. Bukankah Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala telah mengatakan,<br />
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan-lah.” (Al-Hasyr: 7)</p>
<p>Kita tidak boleh melakukan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah peninggalan Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wasallam, Ibnu Wadhdhah berkata, “Umar telah memerintahkan untuk menebang pohon tempat Rasulullah dibai’at, sebab orang-orang banyak mengunjungi pohon tersebut untuk shalat di sana. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Umar khawatir mereka terfitnah (tersesat jatuh ke dalam dosa syirik).” (Kisah tersebut dapat dilihat dalam Shahih Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Ibnu Taimiyah memberikan komentar me-ngenai kunjungan ke gua Hira’: “Sebelum diangkat men-jadi rasul, beliau sering menyendiri untuk beribadah di sana. Dan di sanalah pertama sekali wahyu diturunkan kepada beliau. Akan tetapi setelah itu beliau tidak pernah sama sekali mengunjunginya bahkan tidak pernah mendekatinya. Demikian pula sahabat-sahabat beliau Shalallaahu alaihi wasalam. Beliau menetap di kota Makkah selama lebih kurang sepuluh tahun, namun tidak pernah sekalipun beliau mengunjunginya lagi atau mendaki ke atasnya. Demikian pula kaum mu’minin yang menetap bersama beliau di kota Makkah. Setelah beliau berhijrah ke Madinah, beliau berkali-kali memasuki kota Makkah, seperti pada saat menunaikan Umrah Hudaibiyah, saat penaklukan kota Makkah, di mana beliau berdiam selama dua puluh hari di sana, pada saat menunaikan Umrah Ji’ranah, namun beliau tidak pernah mendatangi gua Hira’ atau mengun-junginya…..” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah XXVII / hal. 251).</p>
<p>Sekarang kita akan mengunjungi Kota Al-Madinah An-Nabawiyyah, bangunannya mulai terlihat di hadapan kita. Itulah gunung Uhud, yang dikatakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :  </span></p>
<p style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">“Gunung ini mencintai kami dan kami pun mencintai-nya” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Sebelum memasuki kediaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , marilah kita lihat sejenak bentuk bangunannya. Janganlah terperanjat bila kita hanya menyaksikan sebuah bangunan kecil dengan tempat tidur yang sangat sederhana. Sebab Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah seorang yang sangat zuhud terhadap dunia. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidaklah menolehkan pandangan kepada kemewahan dan gemerlap harta benda dunia. Namun yang menjadi penyejuk mata hati beliau hanyalah ibadah shalat. (Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat An-Nasaa’i)</p>
<p>Beliau berkomentar tentang dunia sebagai berikut:  </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">“Apa artinya dunia bagiku! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengelana yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera meninggalkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan.” (HR. At-Tirmidzi)</p>
<p>Sekarang kita sedang berjalan menuju kediaman beliau Shalallaahu alaihi wasalam seraya mengayunkan langkah di jalan-jalan kota Madinah. Itulah kamar-kamar istri beliau mulai tampak. Kamar sederhana yang dibangun dari pelepah kurma dan polesan tanah, sebagian lagi dengan batu yang ditata sedemikian rupa, sementara bagian atasnya dipayungi dengan atap dari pelepah kurma.</p>
<p>Al-Hasan mengisahkan kepada kita: “Aku pernah masuk ke dalam rumah-rumah istri Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wasallam; pada masa khilafah Utsman bin ‘Affan Radhiallaahu anhu. Langit-langit rumah tersebut dapat aku jangkau dengan tanganku.” (Lihat Ath-Thabaqat Al-Kubra karangan Ibnu Sa’ad I/hal 499 &amp; 501, lihat juga kitab As-Sirah An-Nabawiyyah II/hal 274 karangan Ibnu Katsir)</p>
<p>Sungguh kediaman beliau adalah rumah yang sangat sederhana dengan beberapa kamar yang kecil. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX">Akan tetapi penuh dengan cahaya keimanan dan ketaatan, sarat dengan wahyu dan risalah ilahi!</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX">Sumber : <em>Sehari di Kediaman Rosululloh, Karya Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim</em></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=102&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/23/perjalanan-yang-menyenangkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Baru: Sikap dan Kewajiban Umat Islam terhadap Tragedi Palestina</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/fatwa-baru-sikap-dan-kewajiban-umat-islam-terhadap-tragedi-palestina/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/fatwa-baru-sikap-dan-kewajiban-umat-islam-terhadap-tragedi-palestina/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 05:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[SIKAP DAN KEWAJIBAN UMAT ISLAM TERHADAP TRAGEDI PALESTINA Berikut penjelasan yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah ketika beliau menjawab pertanyaan tentang apa sikap dan kewajiban kita terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Ghaza &#8211; Palestina. Penjelasan ini beliau sampaikan pada hari Senin 9 Muharram 1430 H dalam salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=99&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" align="center"><strong>SIKAP DAN KEWAJIBAN</strong></p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>UMAT ISLAM</strong></p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>TERHADAP TRAGEDI PALESTINA</strong><strong> </strong></p>
<p dir="ltr">Berikut penjelasan yang disampaikan oleh <strong><em>Fadhilatusy Syaikh </em>Muhammad bin ‘Umar Bazmul</strong> <em>hafizhahullah</em> ketika beliau menjawab pertanyaan tentang apa sikap dan kewajiban kita terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Ghaza &#8211; Palestina. Penjelasan ini beliau sampaikan pada hari Senin 9 Muharram 1430 H dalam salah satu pelajaran yang beliau sampaikan, yaitu pelajaran <em>syarh </em>kitab <em>Fadhlul Islam</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p dir="ltr" align="center">%%##%%</p>
<p dir="ltr">Kewajiban terkait dengan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita kaum muslimin di Jalur Ghaza Palestina baru-baru ini adalah sebagai berikut :</p>
<p dir="ltr"><strong>Pertama :</strong></p>
<p dir="ltr"><strong></strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Merasakan besarnya nilai kehormatan darah (jiwa) seorang muslim. </strong>Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah (no. 3932) dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar berkata : Saya melihat Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wasallam </em>sedang berthawaf di Ka’bah seraya beliau berkata (kepada Ka’bah) :</p>
<p dir="rtl">مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ حُرْمَةً مِنْكِ مَالِهِ وَدَمِهِ</p>
<p dir="ltr"><em>“Betapa bagusnya engkau (wahai Ka’bah), betapa wangi aromamu, betapa besar nilaimu dan besar kehormatanmu. Namun, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh lebih besar di si</em><em>si Allah dibanding engkau, baik kehormatan harta maupun darah (jiwa)nya.”</em> <a name="_ftnref1" href="http://sekarputih.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span style="color:#000000;">[1]</span></a><sup>)</sup></p>
<p dir="ltr">Dalam riwayat At-Tirmidzi (no. 2032) dengan lafazh :</p>
<p dir="ltr">Dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar <em>Radhiyallah ‘anhuma</em>, bahwa Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>naik ke atas mimbar kemudian beliau berseru dengan suara yang sangat keras seraya berkata :</p>
<p dir="rtl">« يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ! لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ! وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ! وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ! فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ »</p>
<p dir="ltr"><em>“Wahai segenap orang-orang yang berislam dengan ucapan lisannya namun keimanannya tidak menyentuh qalbunya, <strong>janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. </strong>Karena barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya muslim, maka pasti Allah akan terus mengikuti aibnya. Barangsiapa yang diikuti oleh Allah segala aibnya, maka pasti Allah akan membongkarnya walaupun dia (bersembunyi) di tengah rumahnya.” </em></p>
<p dir="ltr">Maka suatu ketika Ibnu ‘Umar <em>Radhiyallah ‘anhuma </em>melihat kepada Ka’bah dengan mengatakan (kepada Ka’bah) : “Betapa besar kedudukanmu dan betapa besar kehormatanmu, namun seorang mukmin lebih besar kehormatannya di sisi Allah dibanding kamu.”</p>
<p dir="ltr">Al-Imam At-Tirmidzi berkata tentang kedudukan hadits tersebut : “Hadits yang hasan gharib.” Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam <em>Shahih Sunan At-Tirmidzi</em> (no. 2032).</p>
<p dir="ltr">Seorang muslim apabila melihat darah kaum muslimin ditumpahkan, atau jiwa dibunuh, atau hati kaum muslimin diteror, maka tidak diragukan lagi pasti dia akan menjadikan ini sebagai perkara besar, karena terhormatnya darah kaum muslimin dan besarnya hak mereka.</p>
<p dir="ltr">Bagaimana menurutmu, kalau seandainya seorang muslim melihat ada orang yang hendak menghancurkan Ka’bah, ingin merobohkan dan mempermainkannya, maka betapa ia menjadikan hal ini sebagai perkara besar?!! Sementara Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wasallam </em>telah menegaskan bahwa <em>“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin <strong>jauh lebih besar</strong> di si</em><em>si Allah dibanding engkau (wahai Ka’bah), baik kehormatan harta maupun darah (jiwa)nya.”</em></p>
<p dir="ltr">Maka perkara pertama yang wajib atas kita adalah <strong>merasakan betapa besar nilai kehormatan darah kaum mukminin yang bersih, yang baik, dan sebagai pengikut sunnah Rasulullah</strong> <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, yang senantiasa berjalan di atas bimbingan Islam. Kita katakan, bahwa darah (kaum mukminin) tersebut memiliki kehormatan yang besar dalam hati kita.</p>
<p dir="ltr">Kita tidak ridha -demi Allah- dengan ditumpahkannya darah seorang mukmin pun (apalagi lebih), walaupun setetes darah saja, tanpa alasan yang haq (dibenarkan oleh syari’at). Maka bagaimana dengan kebengisan dan peristiwa yang dilakukan oleh para ekstrimis, orang-orang yang zhalim, para penjajah negeri yang suci, bumi yang suci dan sekitarnya??! <em>Innalillah wa inna ilaihi raji’un</em>!!</p>
<p dir="ltr">Maka tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak peduli dengan darah (kaum mukminin) tersebut, terkait dengan hak dan kehormatan (darah mukminin), kehormatan negeri tersebut, dan kehormatan setiap muslim di seluruh dunia, dari kezhaliman tangan orang kafir yang penuh dosa, durhaka, dan penuh kezhaliman seperti peristiwa (yang terjadi sekarang di Palestina) walaupun kezhaliman yang lebih ringan dari itu.</p>
<p dir="ltr"><strong>Kedua :</strong></p>
<p dir="ltr"><strong></strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Wajib atas kita membela saudara-saudara kita. </strong>Pembelaan kita tersebut harus dilakukan dengan cara yang syar’i. Cara yang syar’i itu tersimpulkan sebagai berikut :</p>
<p dir="ltr">-    Kita membela mereka dengan cara do’a untuk mereka. Kita do’akan mereka pada waktu sepertiga malam terakhir, kita do’akan mereka dalam sujud-sujud (kita), bahkan kita do’akan dalam <em>qunut (nazilah)</em> yang dilakukan pada waktu shalat <strong>jika memang diizinkan/diperintahkan oleh <em>waliyyul amr</em> </strong>(pemerintah)<strong>. </strong></p>
<p dir="ltr">Jangan heran dengan pernyataanku “dalam <em>qunut nazilah</em> yang dilakukan dalam shalat <strong>jika memang diizinkan/diperintahkan oleh <em>waliyyul amr</em>.</strong>” Karena umat Islam telah melalui berbagai musibah yang dahsyat pada zaman shahabat Nabi, namun tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa para shahabat melakukan qunut nazilah selama mereka tidak diperintah oleh pimpinan (kaum muslimin).</p>
<p dir="ltr">Oleh karena itu aku katakan : Kita membantu saudara-saudara kita dengan do’a pada waktu-waktu sepertiga malam terakhir, kita bantu saudara-saudara kita dengan do’a dalam sujud, kita membantu saudara-saudara kita dengan do’a saat-saat kita berdzikir dan menghadap Allah agar Allah menolong kaum muslimin yang lemah.</p>
<p dir="ltr">…..</p>
<p dir="ltr">Semoga Allah membebaskan kaum muslimin dari cengkraman tangan-tangan zhalim, dan mengokohkan mereka (kaum muslimin) dengan ucapan (aqidah) yang haq, serta menolong mereka terhadap musuh kita, musuh mereka, musuh Allah, dan musuh kaum mukminin.</p>
<p dir="ltr"><strong>Ketiga</strong><strong> </strong><strong>dan</strong><strong> </strong><strong>Keempat</strong>, terkait dengan sikap kita terhadap peristiwa Ghaza :</p>
<p dir="ltr">Kita harus waspada terhadap orang-orang yang memancing di air keruh, menyeru dengan seruan-seruan yang penuh emosional atau seruan yang ditegakkan di atas perasaan (jauh dari bimbingan ilmu dan sikap ilmiah), yang justru membuat kita terjatuh pada masalah yang makin besar.</p>
<p dir="ltr">Kalian tahu bahwa Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>berada di Makkah, berada dalam periode Makkah, ketika itu beliau mengetahui bahwa orang-orang kafir terus menimpakan siksaan yang keras terhadap kaum muslimin. Sampai-sampai kaum muslimin ketika itu meminta kepada Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>agar menginzinkan mereka berperang. Ternyata Rasululllah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>hanya mengizinkan sebagian mereka untuk berhijrah (meninggalkan tanah suci Makkah menuju ke negeri Habasyah), namun sebagian lainnya (tidak beliau izinkan) sehingga mereka terus minta izin dari Rasulullah untuk berperang dan berjihad.</p>
<p dir="ltr">Dari shahabat Khabbab bin Al-Arat <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> :</p>
<p dir="rtl">شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ : أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلا تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ”</p>
<p dir="ltr">Kami mengadu kepada Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> ketika beliau sedang berbantalkan burdahnya di bawah Ka’bah –di mana saat itu kami telah mendapatkan siksaan dari kaum musyrikin–. Kami berkata kepada beliau : “Wahai Rasulullah, mintakanlah pertolongan (dari Allah) untuk kama? berdo’alah  (wahai Rasulullah) kepada Allah untuk kami?”</p>
<p dir="ltr">Maka Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em><a name="_ftnref2" href="http://sekarputih.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span style="color:#000000;">[2]</span></a><em><sup>)</sup> </em>: “<em>Bahwa dulu seseorang dari kalangan umat sebelum kalian, ada yang digalikan lubang untuknya kemudian ia dimasukkan ke lubang tersebut. Ada juga yang didatangkan padanya gergaji, kemudian gergaji tersebut diletakkan di atas kepalanya lalu ia digergaji sehingga badannya terbelah jadi dua, akan tetapi perlakuan itu tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi, sehingga berpisahlah tulang dan dagingnya, akan tetapi perlakuan itu pun tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan urusan ini (Islam), hingga (akan ada) seorang pengendara yang berjalan menempuh perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah atau (dia hanya khawatir terhadap) srigala (yang akan menerkam) kambingnya. <strong>Akan tetapi kalian tergesa-gesa.</strong></em><strong> </strong></p>
<p dir="ltr">Hadits ini diriwayatkan oleh<strong> Al-Bukhari </strong>(no. 3612, 3852, 6941).</p>
<p dir="ltr">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>terus berada dalam kondisi ini dalam periode Makkah selama 13 tahun. Ketika beliau berada di Madinah, setelah berjalan selama 2 tahun turunlah ayat :</p>
<p dir="rtl">﴿أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ﴾ (الحج: 39 )</p>
<p dir="ltr"><em>Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi karena mereka telah dizhalimi. Sesungguhnya Allah untuk menolong mereka adalah sangat mampu.” </em><strong>[Al-Haj : 39]</strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Maka ini merupakan izin bagi mereka untuk berperang.</strong></p>
<p dir="ltr"><strong></strong></p>
<p dir="ltr">Kemudian setelah itu turun lagi ayat :</p>
<p dir="rtl">﴿وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾ ( البقرة:190)</p>
<p dir="ltr"><em>“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” </em><strong>[Al-Baqarah : 190]</strong></p>
<p dir="ltr">Kemudian setelah itu turun ayat :</p>
<p dir="rtl">﴿فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ﴾ (التوبة: من الآية12)</p>
<p dir="ltr"><em>Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti. </em><strong>[At-Taubah : 12]</strong></p>
<p dir="rtl">﴿قَاتِلُوا الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ﴾ (التوبة: من الآية29)</p>
<p dir="ltr"><em>“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada Hari Akhir” </em><strong>[At-Taubah : 29]</strong></p>
<p dir="ltr">Yakni bisa kita katakan, bahwa perintah langsung untuk berjihad turun setelah 16 atau 17 tahun berlalunya awal risalah. Jika masa dakwah Rasulullah adalah 23 tahun, <strong>berarti 17 tahun adalah perintah untuk bersabar. </strong>Maka kenapa kita sekarang terburu-buru??!</p>
<p dir="ltr">Kalau ada yang mengatakan : <em>Ya Akhi, </em>mereka (Yahudi) telah mengepung kita! <em>Ya Akhi </em>mereka (Yahudi) telah menzhalimi kita di Ghaza!!</p>
<p dir="ltr">Maka jawabannya : Bersabarlah, janganlah kalian terburu-buru dan janganlah kalian malah memperumit masalah. Janganlah kalian mengalihkan permasalahan dari kewajiban bersabar dan menahan diri kepada sikap perlawanan ditumpahkan padanya darah (kaum muslimin).</p>
<p dir="ltr">Wahai saudara-saudaraku, hingga pada jam berangkatnya aku untuk mengajar jumlah korban terbunuh sudah mencapai 537 orang, dan korban luka 2.500 orang. Apa ini?!!</p>
<p dir="ltr">Bagaimana kalian menganggap enteng perkara ini? Mana kesabaran kalian? Mana sikap menahan diri kalian? Sebagaimana jihad itu ibadah, maka sabar pun juga merupakan ibadah. Bahkan tentang sabar ini Allah berfirman :</p>
<p dir="rtl">﴿إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ﴾</p>
<p dir="ltr"><em>“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”</em> <strong>[Az-Zumar : 10]</strong></p>
<p dir="ltr">Jadi sabar merupakan ibadah. Kita beribadah kepada Allah dengan amalan kesabaran.</p>
<p dir="ltr">Kenapa kalian mengalihkan umat dari kondisi sabar menghadapi kepungan musuh kepada perlawanan dan penumpahan darah?</p>
<p dir="ltr">Kenapa kalian menjadikan warga yang aman, yang tidak memiliki keahlian berperang, baik terkait dengan urusan-urusan maupun prinsip-prinsip perang, kalian menjadikan mereka sasaran penyerbuan tersebut, sasaran serangan tersebut, dan sasaran pukulan tersebut, sementara kalian sendiri malah keluar menuju Beirut dan Libanon??! Kalian telah menimpakan bencana terhadap umat sementara kalian sendiri malah keluar (dari Palestina)??!</p>
<p dir="ltr">Oleh karena itu saya katakan : Janganlah seorang pun menggiring kita dengan perasaan atau emosi kepada membalik realita.</p>
<p dir="ltr">Kami mengatakan : bahwa wajib atas kita untuk bersabar dan menahan diri serta tidak tidak terburu-buru. Sabar adalah ibadah. Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>telah bersabar dengan kesabaran yang panjang atas kezhaliman Quraisy dan atas kezhaliman orang-orang kafir. Kaum muslimin yang bersama beliau juga bersabar. Apabila dakwah Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam</em> selama 23 tahun, sementara 17 tahun di antaranya Rasulullah bersabar (terhadap kekejaman/kebengisan kaum musyrikin) maka kenapa kita melupakan sisi kesabaran?? Dua atau tiga tahu mereka dikepung/diboikot! Kita bersabar dan jangan menimpakan kepada umat musibah, pembunuhan, kesusahan, dan kesulitan tersebut. Janganlah kita terburu beralih kepada aksi militer!!</p>
<p dir="ltr">Wahai saudaraku, takutlah kepada Allah! Apabila Rasulullah merasa iba kepada umatnya dalam masalah shalat, padahal itu merupakan rukun Islam yang kedua, beliau mengatakan (kepada Mu’adz) : <em>“Apakah engkau hendak menjadi tukang fitnah wahai Mu’adz?!!”</em> karena Mu’adz telah membaca surat terlalu panjang dalam shalat. Maka bagaimana menurutmu terhadap orang-orang yang hanya karena perasaan dan emosinya yang meluap menyeret umat kepada penumpahan darah dan aksi perlawanan yang mereka tidak memiliki kemampuan, bahkan walaupun sepersepuluh saja mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Bukankah tepat kalau kita katakan (pada mereka) : Apakah kalian hendak menimpakan musibah kepada umat dengan aksi perlawanan ini yang sebenarnya mereka sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan tersebut!</p>
<p dir="ltr">Tidak ingatkah kita ketika kaum kuffar dari kalangan Quraisy dan Yahudi berupaya mencabik-cabik Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dalam perang Ahzab, setelah adanya pengepungan (terhadap Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>dan para shahabatnya) yang berlangsung selama satu bulan, lalu sikap apa yang Rasulullah lakukan? Yaitu beliau <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>mengutus kepada qabilah Ghathafan seraya berkata kepada mereka : “Saya akan memberikan kepada kalian separoh dari hasil perkebunan kurma di Madinah agar mereka (qabilah Ghathafan) tidak membantu orang-orang kafir dalam memerangi kami.”</p>
<p dir="ltr">Kemudian beliau mengutus kepada para pimpinan Anshar, maka mereka pun datang (kepada beliau). Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>menyampaikan kepada mereka bahwa beliau telah mengambil kebijakan begini dan begini, kemudian beliau berkata : “Kalian telah melihat apa yang telah menimpa umat berupa kegentingan dan kesulitan?”</p>
<p dir="ltr">Perhatikan, bukanlah keletihan dan kesulitan yang menimpa umat sebagai perkara yang enteng bagi beliau <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam</em>. Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>tidak rela memimpin mereka untuk melakukan perlawanan militer dalam keadaan mereka tidak memiliki daya dan kemampuan, sehingga dengan itu beliau <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>menerima dari shahabat Salman Al-Farisi ide untuk membuat parit (dalam rangka menghalangi kekuatan/serangan musuh).</p>
<p dir="ltr">Demikianlah (cara perjuangan Rasulullah), padahal beliau adalah seorang Rasul <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>dan bersama beliau para shahabatnya. Apakah kita lebih kuat imannya dibanding Rasulullah?! Apakah kita lebih kuat agamanya dibanding Rasulullah??! Apakah kita lebih besar kecintaannya terhadap Allah dan agama-Nya dibanding Rasulullah dan para shahabatnya??!</p>
<p dir="ltr">Tentu tidak wahai saudaraku.</p>
<p dir="ltr">Sekali lagi Rasulullah tidak memaksakan (kepada para shahabatnya) untuk melakukan perlawanan (terhadap orang kafir). Bukan perkara yang ringan bagi beliau ketika kesulitan yang menimpa umat sudah sedemikian parah. Sehingga terpaksa beliau mengutus kepada qabilah Ghathafan untuk memberikan kepada mereka separo dari hasil perkebunan kurma Madinah (agar mereka tidak membantu kaum kafir menyerang Rasulullah <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam </em>dan para shahabatnya). Namun Allah kuatkan hati dua pimpinan Anshar, keduanya berkata : ‘Wahai Rasulullah, mereka tidak memakan kurma tersebut dari kami pada masa Jahiliyyah, maka apakah mereka akan memakannya dari kami pada masa Islam? Tidak wahai Rasulullah. Kami akan tetap bersabar.’</p>
<p dir="ltr">Mereka (Anshar) tidak mengatakan : Kami akan tetap berperang. Namun mereka berkata : Kami akan bersabar. Maka tatkala mereka benar-benar bersabar, setia mengikuti Rasulullah, dan ridha, datanglah kepada mereka pertolongan dari arah yang tidak mereka sangka. Datanglah pertolongan dari sisi Allah, datanglah hujan dan angin, dan seterusnya. Bacalah peristiwa ini dalam kitab-kitab <em>sirah</em>, pada (pembahasan) tentang peristiwa perang Ahzab.</p>
<p dir="ltr">Maka, permasalahan yang aku ingatkan adalah : Janganlah ada seorangpun yang menyeret kalian hanya dengan perasaan dan emosinya, maka dia akan membalik realita yang sebenarnya kepada kalian.</p>
<p dir="ltr">Aku mendengar sebagai orang mengatakan, bahwa “Penyelesaian permasalahan yang terjadi adalah dengan jihad, dan seruan untuk berjihad!”</p>
<p dir="ltr">Tentu saya tidak mengingkari jihad, namun apabila yang dimaksud adalah <strong>jihad yang syar’i</strong></p>
<p dir="ltr">Sementara jihad yang syar’i memilliki syarat-syarat, dan syarat-syarat tersebut belum terpenuhi pada kita sekarang ini. Kita belum memenuhi syarat-syarat terlaksananya jihad syar’i pada hari ini. Sekarang kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.</p>
<p dir="ltr">Apabila <em>Sayyiduna </em>‘Isa u pada akhir zaman nanti akan berhukum dengan syari’at Muhammad <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam</em>, ‘Isa adalah seorang nabi dan bersamanya kaum mukminin, namun Allah mewahyukan kepadanya : ‘Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Jabal Ath-Thur karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak mampu melawannya.’ Siapakah kaum tersebut? Mereka adalah Ya`juj dan Ma`juj.</p>
<p dir="ltr">Perampasan yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj -mereka termasuk keturunan Adam (yakni manusia)- terhadap kawasan Syam dan sekitarnya seperti perampasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan ahlul batil terhadap salah satu kawasan dari kawasan-kawasan (negeri-negeri) Islam. Maka jihad melawan mereka adalah termasuk jihad <em>difa’ </em>(defensif : membela diri). Meskipun demikian ternyata Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mewahyukan kepada ‘Isa <em>‘alaihissalam</em> &#8211; beliau ketika itu berhukum dengan syari’at Nabi Muhammad <em>Shallahu ‘alaihi wa Sallam</em> &#8211; : “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Jabal Ath-Thur. Karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.’</p>
<p dir="ltr">Allah tidak mengatakan kepada mereka : “Berangkatlah melakukan perlawanan terhadap mereka.” Allah tidak mengatakan kepada : “Bagaimana kalian membiarkan mereka mengusai negeri dan umat?” Tidak. Tapi Allah mengatakan : “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Jabal Ath-Thur. Karena sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.” <strong>Inilah hukum Allah.</strong></p>
<p dir="ltr">Jadi, meskipun jihad <em>difa’ </em>tetap kita harus melihat pada kemampuan. Kalau seandainya masalahnya adalah harus melawan dalam situasi dan kondisi apapun, maka apa gunanya Islam mensyari’atkan bolehnya perdamaian dan gencatan senjata antara kita dengan orang-orang kafir? Padahal Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah berfirman :</p>
<p dir="rtl">وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا [الأنفال/61]</p>
<p dir="ltr"><em>“Jika mereka (orang-orang kafir) condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya (terimalah ajakan perdamaian tersebut).” </em><strong>[Al-Anfal : 61]</strong></p>
<p dir="ltr">Apa makna itu semua?</p>
<p dir="ltr">Oleh karena itu <em>Samahatusy Syaikh </em>Bin Baz <em>Rahimahullah</em> menfatwakan bolehnya berdamai dengan Yahudi, meskipun mereka telah merampas sebagian tanah Palestina, dalam rangka menjaga darah kaum muslimin, menjaga jiwa mereka, dengan tetap diiringi mempersiapkan diri sebagai kewajiban menyiapkan kekuatan untuk berjihad. Persiapan kekuatan untuk berjihad dimulai pertama kali dengan persiapan <em>maknawi</em> <em>imani </em>(yakni mempersiapkan kekuatan iman), baru kemudian persiapan materi.</p>
<p dir="ltr">Maka kami tegaskan bahwa :</p>
<p dir="ltr">Kewajiban kita terhadap tragedi besar yang menimpa kaum muslimin (di Palestina) dan negeri-negeri lainnya:</p>
<p dir="ltr">-          <strong>Bahwa kita membantu mereka dengan do’a untuk mereka, dengan cara yang telah aku jelaskan di atas.</strong></p>
<p dir="ltr">-          <strong>Kita menjadikan masalah darah kaum muslimin sebagai perkara besar, kita tidak boleh mengentengkan perkara ini. Kita menyadari bahwa ini merupakan perkara besar yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin.</strong></p>
<p dir="ltr">-          <strong>Kita waspada agar jangan sampai ada seorangpun yang menyeret kita hanya dengan perasaan dan emosi kepada perkara-perkara yang bertentangan dengan syari’at Allah </strong><em>Subhanahu wa Ta’ala. </em><strong></strong></p>
<p dir="ltr">-          <strong>Kita mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah dengan cara mengingatkan diri kita dan saudara-saudara kita tentang masalah sabar. Allah telah berfirman : <em>“Bersabarlah sebagaimana kesabaran para ulul ‘azmi dari kalangan para rasul.” </em>[Al-Ahqaf : 35] Karena sesungguhnya sikap sabar merupakan sebuah siasat yang bijaksana dan terpuji dalam situasi dan kondisi seperti sekarang. Sabar merupakan obat. Dengan kesabaran dan ketenangan serta tidak terburu-buru <em>insya Allah </em>problem akan terselesaikan. </strong>Kita memohon kepada Allah pertolongan dan <em>taufiq</em>. <strong>Adapun mengajak umat pada perkara-perkara yang berbahaya maka ini bertentangan dengan syari’at Allah dan bertentangan dengan agama Allah.</strong></p>
<p dir="ltr"><strong></strong></p>
<p dir="ltr"><strong></strong></p>
<p dir="ltr"><strong></strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Kelima :</strong></p>
<p dir="ltr">Memberikan bantuan materi yang disalurkan melalui lembaga-lembaga resmi, yaitu melalui jalur pemerintah. Selama pemerintah membuka pintu (penyaluran) bantuan materi dan sumbangan maka pemerintah lebih berhak didengar dan ditaati. Setiap orang yang mampu untuk menyumbang maka hendaknya dia menyumbang. Barangsiapa yang lapang jiwanya untuk membantu maka hendaknya dia membantu. Namun janganlah menyalurkan harta dan bantuan tersebut kecuali melalui jalur resmi sehingga lebih terjamin <em>insya Allah</em> akan sampai ke sasarannya. Jangan tertipu dengan nama besar apapun, jika itu bukan jalur yang resmi yang bisa dipertanggungjawabkan. Janganlah memberikan bantuan dan sumbanganmu kecuali pada jalur resmi.</p>
<p dir="ltr">Inilah secara ringkas kewajiban kita terhadap tragedi yang menimpa saudara-saudara di Ghaza. Saya memohon kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> agar menolong dan mengokohkan mereka serta memenangkan mereka atas musuh-musuh kita dan musuh-musuh mereka (saudara-saudara kita yang di Palestina), serta menghilangkan dari mereka (malapetaka tersebut). Kita memohon agar Dia menunjukkan keajaiban-keajaiban <em>Qudrah</em>-Nya atas para penjajah, para penindas, dan para perampas yang zhalim dan penganiaya tersebut.</p>
<p dir="rtl">وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</p>
<hr size="1" />
<p dir="ltr"><a name="_ftn1" href="http://sekarputih.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span style="color:#000000;">[1]</span></a> Semula Asy-Syaikh Al-Albani mendha’ifkan hadits ini, sehingga beliau pun meletakkannya dalam <em>Dha’if Sunan Ibni Majah </em>dan <em>Dha’if Al-Jami’</em>. Namun kemudian beliau rujuk dari pendapat tersebut. Beliau menshahihkan hadits tersebut dan memasukkannya dalam <em>Ash-Shahihah </em>no. 3420. beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan :</p>
<p dir="rtl">هذا؛ وقد كنت ضعفت حديث ابن ماجه هذا في بعض تخريجاتي وتعليقاتي قبل أن يطبع (( شعب الإيمان ))، فلما وقفت على إسناده فيه، وتبينت حسنه، بادرت إلى تخريجه هنا تبرئة للذمة، ونصحا للأمة داعيا ( ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا )، وبناء عليه؛ ينقل الحديث من ( ضعيف الجامع الصغير ) و ( ضعيف سنن ابن ماجه ) إلى ( صحيحيهما ).</p>
<p dir="ltr"><a name="_ftn2" href="http://sekarputih.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span style="color:#000000;">[2]</span></a> Dalam riwayat Al-Bukhari lainnya dengan lafazh disebutkan bahwa : <em>Maka beliau langsung duduk dengan wajah memerah seraya bersabda : … .</em></p>
<p>(Dinukil oleh Blog Ulama Sunnah dari<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=299#more-299" target="_blank"><span style="color:#003399;">http://www.assalafy .org/mahad/ ?p=299#more- 299</span></a>)</p>
<p>Baca Artikel Yang berkaitan (Penting!! Jangan Sampai tidak dibaca):</p>
<p>Wasiat Syaikh Ibn Baaz untuk Muslimin Palestina<br />
Konflik Palestina bukan Konflik Agama?<br />
Hukum Demonstrasi untuk Palestina<br />
Fatwa terbaru Lajnah Daimah tentang Krisis Gaza<br />
Apakah Saudi Arabia Loyalis Amerika dan Apa Hakekat &#8216;Hizbullah Lebanon&#8217;?<br />
Peringatan bagi Yahudi!!!</p>
<p>&#8211;<br />
جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم<br />
أم محمد حسناء بنت حج الترناتية<br />
____________ ___<br />
إن ناشئة اليل هي أشد وطئا وأقوم قيلا</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=99&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/fatwa-baru-sikap-dan-kewajiban-umat-islam-terhadap-tragedi-palestina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kunjungan Istimewa</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/kunjungan-istimewa/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/kunjungan-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 01:45:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rosululloh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Marilah kita telusuri kembali kurun yang telah berlalu. Membuka lembaran-lembaran masa silam. Membaca dan memperhatikan dengan seksama kisah-kisahnya. Kita akan mengadakan kunjungan istimewa, mengunjungi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di rumah beliau melalui untaian kata dan kalimat. Singgah di rumah beliau barang sehari saja. Melihat-lihat keadaan rumah beliau serta beberapa kisah tentangnya. Guna mengambil pelajaran dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=96&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX">Marilah kita telusuri kembali kurun yang telah berlalu. Membuka lembaran-lembaran masa silam. Membaca dan memperhatikan dengan seksama kisah-kisahnya. Kita akan mengadakan kunjungan istimewa, mengunjungi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di rumah beliau melalui untaian kata dan kalimat. Singgah di rumah beliau barang sehari saja. Melihat-lihat keadaan rumah beliau serta beberapa kisah tentangnya. Guna mengambil pelajaran dan ibrah yang akan menjadi pelita dalam amal perbuatan kita.</p>
<p>Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengeta-huan akhir-akhir ini, literatur-literatur yang dibaca kaum muslimin pun semakin banyak. Mereka dengan mudah dapat mengunjungi Timur dan Barat melalui buku-buku dan tulisan-tulisan, melalui film-film dan berbagai referensi lainnya. Padahal, sebenarnya kita lebih berhak mengadakan kunjungan syar’i ke rumah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam daripada mereka. Untuk melihat keadaannya, kemudian bersungguh-sungguh meneladani apa yang kita lihat dan dengar tentangnya. Namun disebabkan terbatasnya kesempatan, kita hanya menyorot beberapa keutamaan di rumah beliau Shalallaahu alaihi wasalam, mudah-mudahan kita dapat mendidik diri kita untuk dapat menerapkannya di rumah masing-masing.</p>
<p>Wahai saudaraku seiman ….<br />
Tujuan kita membuka lembaran masa silam bukanlah hanya untuk menikmati atau melihat-lihat kisah-kisah yang sudah berlalu. Namun tujuan kita yang hakiki adalah menjadikannya sebagai wasilah untuk beribadah kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala. Dengan membaca sirah (sejarah hidup) Nabi Shalallaahu alaihi wasalam diharapkan kita dapat mengikuti sunnah beliau dan berjalan di atas manhaj (pedoman) beliau. Sebagai bentuk ketaatan kita kepada perintah Allah Subhanahu wata’ala; yaitu kewajiban mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Di antara tanda-tanda kecintaan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ialah mentaati perintah beliau dan menjauhi segala yang dilarang dan dibencinya. Serta menjadikan beliau Shallallahu&#8217;alaihi wasallam ; sebagai teladan dan anutan. Mengenai hal itu Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman,<br />
<span style="color:#0000ff;">“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31) </span></p>
<p>Dalam ayat lain Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman,<br />
<span style="color:#0000ff;">“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)</span> </span></p>
<p style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX"><br />
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sendiri menegaskan bahwa mencintai beliau termasuk salah satu sebab mendapatkan manisnya iman. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, </span></p>
<p style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;" lang="ES-MX"><span style="color:#0000ff;">“Ada tiga perkara, bila terkumpul pada diri seseorang, ia pasti mendapatkan manisnya iman; hendaklah Allah Subhanahu wata’ala ; dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.” </span></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="color:#0000ff;">(Muttafaq ‘alaih)</span></p>
<p>Dalam hadits lain beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,  </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><span style="color:#0000ff;">“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia menjadi-kan aku yang lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya sendiri.” (HR. Muslim)<br />
</span><br />
Sirah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah sirah yang sangat menakjubkan. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX">Banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dan petunjuk yang dapat kita teladani darinya. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=96&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/kunjungan-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Betapa ingin bertemu Rosululloh</title>
		<link>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/betapa-ingin-bertemu-rosululloh/</link>
		<comments>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/betapa-ingin-bertemu-rosululloh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 01:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsul&#38;Santi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rosululloh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekarputih.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanyalah bagi Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala semata, Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa hidayah dan dien yang haq. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin para rasul, yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam. Wa ba’du; Mayoritas kaum muslimin pada hari ini terjebak di antara dua sikap yang kontradiktif terhadap Rasulullah Shalallaahu alaihi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=92&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Segala puji hanyalah bagi Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala semata, Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa hidayah dan dien yang haq. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin para rasul, yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam. Wa ba’du;</p>
<p>Mayoritas kaum muslimin pada hari ini terjebak di antara dua sikap yang kontradiktif terhadap Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Ada yang bersikap berlebih-lebihan terhadap Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wasallam, hingga terseret ke dalam perbuatan syirik, seperti memohon kepada beliau atau beristighatsah kepadanya. Dan ada pula yang memandang remeh kedudukan beliau selaku utusan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , pada akhirnya ia berani melang-gar petunjuk beliau, tidak meneladani sirah (peri kehidupan) beliau, dan tidak pula menjadikannya sebagai pelita kehidupan dan rambu perjalanan.</p>
<p>Kehidupan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah kehidupan yang penuh teladan bagi umat, acuan dakwah sekaligus sebagai pedoman hidup. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam adalah teladan dalam ketaatan, dalam beribadah dan berakhlak yang mulia. </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX">Teladan dalam bermuamalah yang baik dan dalam menjaga kehormatan dan kemuliaan. Cukuplah pujian Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala atas beliau sebagai buktinya, Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman,<br />
<span style="color:#0000ff;">“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4) </span></p>
<p>Ahlus Sunnah wal Jamaah menempatkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pada kedudukan yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala kepada beliau, yaitu sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya. Ahlus Sunnah wal Jamaah tidaklah berlebih-lebihan dalam menyanjung Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Kedudukan yang telah diberikan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala sudah cukup untuk menunjukkan ketinggian derajat beliau. Kita, sebagai Ahlus Sunnah, wajib berjalan di atas prinsip tersebut, kita tidak boleh mengada-adakan perbuatan bid’ah, seperti mengadakan peringatan maulid Nabi Shalallaahu alaihi wasalam serta perayaan-perayaan sejenisnya. Namun manifestasi cinta kita kepada beliau ialah dengan mentaati perintah beliau, menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan dibencinya.</p>
<p></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Dalam sebuah syair dituturkan: </span></p>
<p style="margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">Yang harus kita maklumi,<br />
beliau hanyalah seorang manusia biasa.<br />
Di samping beliau adalah hamba Allah yang terbaik.<br />
Allah mengistimewakan beliau dengan stempel putih kenabian.<br />
Bagaikan cahaya yang terang bersinar.<br />
Allah menyertakan nama beliau dengan asma-Nya.<br />
Saat muadzin mengumandangkan adzan lima kali sehari semalam dengan bersyahadat.<br />
Hingga nama beliau dipetik dari nama-Nya sebagai penghormatan.<br />
Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala pemilik ‘Arsy adalah Yang Maha Terpuji,<br />
Sementara beliau adalah yang terpuji.<br />
</span></em><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;"><br />
Meskipun kita tidak sempat menyaksikan beliau Shalallaahu alaihi wasalam secara langsung di dunia, karena terpisah ruang dan waktu, namun kita tidak akan bosan memohon kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala semoga kita termasuk orang-orang yang disebutkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam sabdanya:  </span></p>
<p style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX"><span style="color:#0000ff;">“Betapa ingin aku bertemu dengan saudara-saudaraku!” Para sahabat Shalallaahu alaihi wasalam berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menjawab, “Kamu sekalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku adalah generasi yang belum lagi muncul.” “Wahai Rasulullah, bagaimanakah engkau dapat mengenali suatu generasi dari umatmu yang belum lagi muncul?” tanya sahabat. Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menjawab, “Bagaimanakah menurutmu, bila seseorang memiliki seekor kuda yang putih kepala dan kakinya di antara kuda-kuda yang hitam legam, bukankah dia dapat mengenali kudanya?” “Tentu saja wahai Rasulullah!” jawab mereka. “Sungguh, mereka akan datang dengan warna putih bercahaya pada wajah dan tubuh mereka disebabkan air wudhu’. Dan akulah yang akan mendahului mereka tiba di telaga (Al-Kautsar)!” jawab beliau.” (HR. Muslim)</span></p>
<p>Saya memohon kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala semoga kita semua tergolong orang-orang yang mengikuti jejak beliau Shalallaahu alaihi wasalam dan meneladani kehidupan beliau serta menapaki sunnah-nya. Saya juga memohon kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala semoga Dia Shalallaahu alaihi wasalam mengumpulkan kita bersama beliau di Surga ‘Aden. Dan semoga Allah Subhannahu wa Ta&#8217; ala memberikan pahala yang sempurna bagi beliau Shalallaahu alaihi wasalam sebagai balasan atas seluruh yang telah beliau persembahkan. Shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau, segenap keluarga serta sahabat.</span></p>
<p style="margin:0;"> </p>
<p style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;" lang="ES-MX"><em>Sumber postingan ini dan posting2an berikutnya :<br />
Sehari di Kediaman Rosululloh, Karya Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim</em></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sekarputih.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sekarputih.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sekarputih.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sekarputih.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sekarputih.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sekarputih.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sekarputih.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sekarputih.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sekarputih.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sekarputih.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sekarputih.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sekarputih.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sekarputih.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sekarputih.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sekarputih.wordpress.com&amp;blog=3780222&amp;post=92&amp;subd=sekarputih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekarputih.wordpress.com/2009/01/15/betapa-ingin-bertemu-rosululloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Syamsul&#38;Santi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
